JAKARTA – Pelaku UMKM Siti Nur Seha dari Desa Bimo, Probolinggo berhasil mengubah limbah sisik ikan menjadi Shaany Collagen, produk minuman kolagen yang kini berizin BPOM dan memiliki dampak sosial-ekonomi signifikan.
Usaha ini berawal dari semangat pengelolaan limbah sisik ikan yang sekaligus memberdayakan ibu rumah tangga pesisir. Kisah perintisan ini penuh perjuangan, dimulai dari penelitian skripsi hingga dukungan penuh dari program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.
Keberhasilan pelaku UMKM Siti Nur Seha tak lepas dari kolaborasi antara PT Paiton Energy dan PT Paiton Operation and Maintenance Indonesia (POMI) melalui program Paiton bErsiNERGY bidang Pemberdayaan Masyarakat yang melahirkan kisah sukses inovasi daur ulang limbah menjadi produk bernilai tinggi.
Pendiri UMKM, Siti Nur Seha, memulai risetnya pada tahun 2017. Awalnya, Seha berencana meneliti kulit kerang dan rajungan untuk skripsinya, namun menemukan bahwa sisik ikan kakap lebih melimpah di lapangan.
Dia pun berinisiatif membawa sampel sisik ikan ke laboratorium BATAN untuk menguji kandungannya. Setelah tiga minggu, kolagen—protein penting penyusun tulang dan kulit—berhasil ditemukan.
Meskipun lulus pada 2018, Seha kehilangan akses pendanaan riset. "Pada akhirnya ayah saya menjual sepeda motor untuk membangun laboratorium mini di rumah kami," kenang Seha, Senin (24/11/2025).
Berkat pengorbanan itu, pada tahun 2019 ia berhasil menyelesaikan riset untuk produk yang sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), dan produksi pun dimulai pada 2020.
Kreativitas Seha yang kini tengah menempuh S-2 Fisika di Universitas Negeri Malang itu menarik perhatian PT Paiton Energy-PT POMI.
Pada 2022, Seha mendapat bantuan krusial berupa pembangunan Rumah Produksi Srikandi berukuran 5x12 meter, mesin grinder, mesin packaging, dan botol ekstraksi.
Kini, UMKM tersebut rutin memproduksi sekitar 500 pieces per bulan, termasuk varian rasa cokelat, stroberi, matcha, hingga oatmilk kurma kolagen, dengan omzet bulanan berkisar Rp 25 juta hingga Rp 30 juta.
Pengembangan UMKM Siti Nur Seha menjadi contoh nyata kontribusi PT Paiton Energy dan PT POMI terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG's), khususnya SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 8 (Pekerjaan Layak), dan SDG 12 (Produksi Bertanggung Jawab).
Hingga saat ini, UMKM Seha telah mengolah 22 ton limbah sisik ikan sejak 2020. Dampak sosial-ekonominya mencakup:
Melibatkan 15 orang masyarakat lokal dalam proses produksi, dengan pendapatan tetap rata-rata Rp 1–1,5 juta per bulan.
Rutin melaksanakan cek kesehatan gratis bulanan bagi lebih dari 200 penerima manfaat (tensi, kolesterol, gula darah, dan asam urat).
Mendukung pendidikan anak karyawan, di mana tiga anak telah berhasil kuliah (dua melalui program KIP Kuliah).
Kinerja Paiton Energy dalam mendukung pembangunan berkelanjutan ini sejalan dengan peran pentingnya dalam Ketahanan Energi Nasional.
Sebagai salah satu produsen listrik swasta (IPP) terbesar dengan total kapasitas 2.045 MW (sekitar 6% konsumsi Jawa), Perusahaan juga aktif melakukan transisi energi dan inisiatif mitigasi perubahan iklim.
Inisiatif tersebut antara lain uji coba Co-firing Biomassa, pemasangan PLTS 1.013 KW, serta pengembangan Hutan Tanaman Energi seluas 250 hektar, semua dilakukan di bawah konsep Pentahelix program CSR Paiton bErsiNERGY.
(Taufik Fajar)