Selain itu, lanjut Saleh mengatakan, investasi pada mesin modern dan tekstil khusus, misalnya untuk kebutuhan kesehatan, otomotif, atau bahan industri, lebih menjanjikan dibandingkan hanya memproduksi pakaian jadi massal. Segmen ini tidak terlalu sensitif terhadap harga murah dari impor ilegal dan lebih menekankan kualitas serta spesifikasi.
"Dengan arah ini, industri tekstil bisa keluar dari citra sunset industry yang identik dengan persaingan harga murah dan margin tipis," ungkap Saleh.
Menurutnya, keberhasilan BUMN tekstil tidak semata-mata diukur dari untung besar dalam waktu singkat. Indikator yang lebih realistis antara lain: berkurangnya impor bahan baku tekstil, meningkatnya penggunaan produk tekstil dalam negeri, serta naiknya produktivitas tenaga kerja karena mesin yang lebih modern dan pelatihan yang lebih baik.
Indikator lain yang tidak kalah pentingnya adalah biaya energi yang lebih terkendali dan berkelanjutan, sehingga pabrik tidak lagi kalah bersaing hanya karena listrik atau gas mahal.
Jika BUMN tekstil juga mampu menjadi penopang bagi IKM, misalnya dengan menyediakan bahan baku yang stabil dan berkualitas, maka perannya akan terasa nyata bagi industri nasional.
"Dalam konteks ini, keberhasilan berarti industri tekstil tidak mati, tetapi bertransformasi menjadi lebih efisien, modern, dan tahan terhadap guncangan impor dan tekanan global," tukasnya.
(Dani Jumadil Akhir)