Ichsanuddin mencontohkan kondisi moneter: meski cadangan devisa naik menjadi USD 156,5 miliar, dolar menguat dan rupiah justru melemah. Ia menyoroti pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa bahwa pemodal akan masuk kembali. Menurutnya, masuknya modal asing saat ini justru terbatas pada SBN, dengan peran Bank Indonesia yang dominan dibanding asuransi, reksa dana, dan perbankan konvensional. Hal ini menandakan kerentanan ekonomi Indonesia.
“Pertumbuhan tersendat, rupiah terus melemah. Jika pertumbuhan tersendat tapi kokoh, rupiah seharusnya stabil, tetapi kenyataannya tidak. Inilah yang saya sebut kelumpuhan ekonomi, yang berujung pada terganggunya stabilitas harga. Apalagi stabilitas harga juga dipengaruhi impor energi, walaupun diumumkan bahwa solar sudah mandiri—namun pertanyaannya, solar yang mana yang benar-benar mandiri?” ujarnya.
Ia menambahkan, permasalahan ekonomi ini bersifat struktural dan telah berlangsung bertahun-tahun. Program-program seperti Kereta Cepat Whoosh, IKN, maupun intervensi Bank Dunia belum memperbaiki harga logistik dan efektivitas infrastruktur. Menurut Ichsanuddin, hal ini menunjukkan lemahnya koordinasi dan efektivitas kebijakan di sektor riil.
(Feby Novalius)