JAKARTA – Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman resmi mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab atas gejolak pasar modal yang terjadi dalam dua hari terakhir. Keputusannya menyusul anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 8 persen dan terjadinya trading halt pada Rabu-Kamis (28-29 Januari 2026).
Iman menyatakan pengunduran dirinya dimaksudkan untuk memulihkan kepercayaan investor dan memastikan stabilitas pasar modal setelah IHSG merosot dari level 9.000-an pertengahan Januari menjadi di kisaran 8.000 pada akhir bulan.
"Saya berharap ini yang terbaik buat pasar modal, semoga setelah ini pasar modal kita pebjh baik lagi. Saya percaya ini bentuk tanggung jawab saya, sebagai direktur utama Bursa Efek Indonesia, mudah mudshan bursa kita yang hari ini membaik akan terus membaik," ujarnya, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Iman pun sekali lagi menegaskan bahwa pengunduran dirinya dari Jabatan Direktur Utama merupakan bentuk tanggung jawab atas apa belakangan terjadi di pasar.
"Saya sebagai Direktur Utama dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi 2 hari kemarin, menyatakan mengundurkan diri sebagai direktur Utama Bursa Efek Indonesia," ujarnya.
Iman berharap pengunduran dirinya dari bangku Direktur Utama akan mebuat pasar lebih baik dan bertumbuh kedepannya. Ia meyakini lankah yang diambil merupakan bentuk tanggung jawab.
Adapun, kata Iman, selanjutnya akan ada penunjukan Plt. Direktur Utama sementara. Sebelum pemegang saham memutuskan untuk memilih Direktur Utama yang baru. "Administrasi semuanya akan berlaku sesuai ketentuan, nanti akan ada sementara Plt yang akan ditunjuk, sampai ditunjuk direktur utama yang baru," tambahnya.
Sekedar informasi, IHSG dibuka menguat di level 8.308,73, sempat naik hingga level tertinggi 8.408,30, mencerminkan adanya dorongan beli di awal sesi. Namun, tekanan jual kemudian meningkat sehingga IHSG berbalik arah dan turun tajam menjelang pukul 09.30, bahkan sempat menyentuh level terendah 8.167,16.
Secara intraday, pergerakan indeks menunjukkan pola naik di awal lalu koreksi cukup dalam, mengindikasikan aksi profit taking setelah penguatan awal. Nilai transaksi tercatat Rp9,38 triliun dengan volume 13,51 miliar saham, menunjukkan aktivitas pasar yang relatif ramai di awal perdagangan.
Dari sisi sebaran saham, 348 saham menguat, 286 saham melemah, dan 324 saham stagnan, menandakan kondisi pasar yang masih cukup berimbang, meskipun tekanan jual mulai mendominasi indeks secara agregat. Total kapitalisasi pasar berada di kisaran Rp14.807 triliun.
(Feby Novalius)