JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah ke Rp17.000. Sementara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi hampir 3 persen pada sesi pembukaan. Pelemahan Rupiah dan IHSG ini kompak dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal yang ekstrem di Timur Tengah dan kekhawatiran fiskal di dalam negeri.
Apalagi, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto telah memerintahkan jajarannya untuk siaga tingkat 1 sebagai langkah antisipasi perkembangan situasi di dalam negeri akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, faktor utama yang mengagetkan pasar adalah terpilihnya Mojtaba Khameini sebagai pemimpin baru Iran menggantikan Ayatullah Khameini. Sosoknya yang dinilai fundamentalis diprediksi akan memperpanjang eskalasi konflik di Timur Tengah, ditambah dengan retensi keras dari pihak Donald Trump.
"Trump mengatakan akan memusnahkan, akan mengganti rezim yang ada di Iran. Ini yang membuat apa? Ketegangan di Timur Tengah melonjak tinggi berakibat terhadap penutupan Selat Hormuz. Banyak analis yang mengatakan kemungkinan besar harga minyak mentah ini akan mencapai level USD200 per barel apabila dalam jangka waktu 1 bulan ini belum ada penyelesaian tentang krisis di Timur Tengah," jelas Ibrahim dalam keterangannya, Senin (9/3/2026).
Lonjakan harga minyak mentah yang kini berada di kisaran USD117 per barel dikhawatirkan akan memicu krisis ekonomi global yang serupa dengan tahun 2008 akibat terganggunya jalur energi di Selat Hormuz.