Dari sisi domestik, pasar merespons negatif potensi membengkaknya defisit anggaran. Harga minyak dunia yang jauh melampaui asumsi "normal" pemerintah di level USD92 per barel diprediksi akan memaksa pemerintah melakukan realokasi anggaran besar-besaran.
"Bahwa kemungkinan besar pemerintah akan mengalami defisit anggaran itu 3,6 persen. Nah ini pun juga sudah diinformasikan oleh Menteri Purbaya. Artinya apa? Ini yang kemungkinan besar pemerintah akan mengurangi anggaran untuk MBG (Makan Bergizi Gratis). Nah ini yang membuat ketegangan tersendiri carut-marut di dalam negeri dampak dari eksternal," tutur Ibrahim.
Selain isu fiskal, Ibrahim menyoroti sentimen politik terkait keinginan sejumlah pihak agar Indonesia keluar dari Balance of Payments (BOP) atau komitmen internasional lainnya jika persoalan Palestina tidak menemui titik terang, yang turut menambah ketidakpastian bagi investor.
Perlu diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 211,38 poin atau 2,79 persen ke posisi 7.374,31 pada pembukaan perdagangan hari ini.
Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini dibuka melemah ke level Rp17.019 per dolar AS, atau terkoreksi 0,56 persen dibandingkan penutupan Jumat pekan lalu yang berada di posisi Rp16.925.
Kapuspen TNI Brigjen Aulia Dwi Nasrullah mengonfirmasi instruksi Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengenai status Siaga 1 bagi seluruh pasukan.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap dinamika konflik di Timur Tengah sekaligus hasil evaluasi situasi keamanan dalam negeri. Brigjen Aulia menegaskan bahwa kebijakan ini sejalan dengan mandat UU TNI untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara dari berbagai potensi ancaman.
“Perlu saya sampaikan bahwa sesuai yang diamanatkan dalam UU TNI, salah satu tugas pokok TNI adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara,” kata Aulia dalam keterangannya, dikutip Minggu (8/3/2026).
(Dani Jumadil Akhir)