JAKARTA — Pemerintah belum berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite, meski harga minyak mentah dunia telah melampaui proyeksi APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel dan kini berada di atas USD90 per barel.
Meski demikian, Presiden Prabowo Subianto berencana mengambil langkah penghematan konsumsi BBM sebagai respons terhadap dampak konflik di Timur Tengah terhadap harga energi dunia.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan pemerintah akan menghitung ulang harga BBM subsidi seperti Pertalite setelah periode Lebaran, yang berlangsung hingga akhir Maret 2026.
Wamen Yuliot mengatakan, langkah ini merespons kondisi harga minyak mentah dunia yang melonjak hingga ke angka USD90 per barel, melampaui asumsi makro APBN 2026 sebesar USD70 per barel.
"Kita juga sudah menyampaikan bahwa untuk Pertalite ini tidak akan ada kenaikan harga sampai berakhirnya triwulan I 2026," ujarnya.
Penyesuaian harga Pertalite dilakukan dengan menghitung besaran alokasi terhadap kompensasi yang diberikan pemerintah. Kenaikan harga minyak dunia membuat beban kompensasi pemerintah lebih besar dan berpengaruh pada kinerja fiskal.
"Jadi nanti kita akan evaluasi terkait perkembangan harga minyak dunia dan juga bagaimana alokasi terhadap subsidi dan kompensasinya," sambungnya.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM Pertalite tetap Rp10.000 per liter, setidaknya hingga hari raya Idul Fitri, meski konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak dunia naik.
"Untuk harga BBM subsidi, saya pastikan sampai hari raya tidak ada kenaikan apa pun. Kami sudah melakukan rapat dengan Dewan Energi Nasional (DEN) dan sudah mengantisipasi stok BBM menjelang Lebaran," ujar Bahlil.