JAKARTA - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani memastikan pemerintah sudah memiliki solusi untuk melakukan penyelesaian utang kereta cepat Jakarta - Bandung atau Whoosh.
Seperti diketahui, hasil laporan keuangan tahunan 2022 yang diaudit oleh RSM, proyek kereta cepat Jakarta - Bandung menelan biaya USD7,2 miliar atau setara Rp124 triliun (kurs: Rp17.280). Angka ini mencakup pembengkakan biaya sebesar USD1,21 miliar, dan investasi awal sebesar USD6,06 miliar.
"Waktu itu untuk Whoosh kita sudah meeting oleh pak Menko Infra, Menkeu, dan kami, solusinya sudah ada. Itu akan ditindaklanjuti oleh tim untuk bicara dengan pihak China. Tapi solusinya sudah ada," ujar Rosan saat ditemui di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Kamis (23/4/2026).
Ia optimis penyelesaian utang Whoosh dapat selesai dari hasil komunikasi dengan pihak China. Namun demikian Rosan masih enggan untuk menjelaskan lebih lanjut terkait skema penyelesaian utang yang bakal dilakukan kedepan.
"Skema ini nanti akan disampaikan langsung oleh Pak Menko Infra lah. Insyaallah ini bisa selesai lah," kata Rosan.
Sekedar informasi tambahan, beban utang whoosh menjadi tekanan berat bagi PT KAI (Persero). Sebab perusahaan ini menjadi pemegang saham mayoritas atas PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), yang harus menanggung beban bunga utang saja sekitar Rp2 triliun per tahun.
Dihubungi secara terpisah, Pengamat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Toto Pranoto menjelaskan bahwa proyek kereta cepat yang menelan biaya USD7,2 miliar ini sekitar 75 persen merupakan hasil pinjaman dari China Development Bank (CDB) dengan suku bunga sekitar 3,5-4 persen.