JAKARTA - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan bergerak fluktuatif (mixed) dengan kecenderungan terbatas pada pekan perdagangan singkat 11–13 Mei 2026 alias 3 hari perdagangan. Perhatian pasar akan terbagi antara sentimen rebalancing indeks dunia, dinamika geopolitik global, serta kebijakan fiskal domestik yang menekan sektor pertambangan.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menyoroti bahwa perdagangan pekan ini hanya berlangsung selama tiga hari menyusul libur nasional dan cuti bersama Kenaikan Yesus Kristus pada 14–15 Mei. Dari sisi global, pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai peluang berakhirnya perang Ukraina serta pertemuan puncak Donald Trump dan Xi Jinping menjadi fokus utama.
"Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang negosiasi untuk isu-isu krusial lainnya seperti tarif perdagangan dan pasokan rare earth, sehingga ketidakpastian pada dua isu tersebut kemungkinan masih akan bertahan dalam waktu dekat," jelas Hari dalam risetnya, Jakarta, Senin (11/5/2026).
Dari sisi internal, pelaku pasar patut mewaspadai implementasi perubahan tarif royalti untuk komoditas tembaga, timah, nikel, emas, dan perak yang ditargetkan mulai berlaku pada Juni 2026. Hari mencatat bahwa komoditas emas mengalami lonjakan tarif paling signifikan di batas bawah hingga mencapai 100 persen.
Tekanan terhadap sektor minerba ini diperparah dengan adanya kajian dari Kementerian Keuangan mengenai penerapan bea ekspor dan windfall tax (pajak keuntungan tidak terduga).
"Yang perlu menjadi perhatian lebih lanjut, tekanan terhadap sektor minerba tidak berhenti pada kenaikan royalti semata. Wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax yang tengah dikaji Kementerian Keuangan turut menambah lapisan ketidakpastian, khususnya bagi sub sektor nikel dan batu bara, sehingga volatilitas sektor minerba secara keseluruhan berpotensi bertahan dalam jangka pendek,” papar Hari.