Melalui pembentukan sentimen positif di pasar surat utang tersebut, pemerintah berharap dapat menyetop gelombang pelarian modal asing (capital outflow) dari pasar obligasi yang belakangan ini mengganggu pasokan valuta asing (valas) di dalam negeri.
Purbaya secara rinci memaparkan korelasi positif antara stabilitas harga obligasi dengan ketahanan mata uang Garuda. Jika harga surat utang negara berhasil dibuat stabil, investor asing diproyeksikan akan mengurungkan niat mereka untuk keluar dari pasar keuangan Indonesia.
"Kalau sentimen positif di situ (bond market), biasanya asing juga ikut masuk dan Rupiah cenderung terkendali, kenapa? karena uangnya enggak keluar lagi. Yang asing enggak jual bond dan kabur keluar. Karena Bond-nya stabil harganya," jelas Purbaya.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa keberhasilan mengendalikan harga obligasi berpotensi memicu penurunan tingkat imbal hasil (yield), yang pada gilirannya justru akan menaikkan nilai aset surat utang itu sendiri.
"Karena bond-nya stabil harganya. Artinya kalau stabil, kalau memang yieldnya turun kita targetkan bisa turun, kalau yield-nya turun kan berarti harga bond-nya naik. Nanti ada potensi capital gain, jadi harusnya sih pasar bond kita menarik," tambahnya.
Kendati Kemenkeu masih terus mengukur dan mengevaluasi seberapa jauh intervensi ini perlu dilakukan secara periodik, Purbaya menegaskan pemerintah tidak kekurangan peluru. Saat ini, kas negara masih mengantongi modal yang sangat kuat berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun.
"Kita lihat seberapa jauh kita butuhkan masuk ke sana. Kan saya punya Rp 420 triliun cash yang bisa saya putar di sana, bisa saya putar uang cash saya ke sana, jadi cukup bisa berkesinambungan dilakukan," tegasnya.
Meski demikian, Purbaya enggan membeberkan secara detail mengenai rincian skema teknis operasional BSF yang tengah digulirkan di pasar saat ini demi menjaga efektivitas strategi intervensi pemerintah.
"Nanti itu. Itu strategi kita sendiri," pungkasnya.
(Taufik Fajar)