Profit Aplikator Ojol Diprediksi Tertekan Efek Komisi Turun, Ekosistem Grup Bisa Jadi Penyelamat

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Kamis 21 Mei 2026 06:54 WIB
Profit Aplikator Ojol Diprediksi Tertekan Efek Komisi Turun, Ekosistem Grup Bisa Jadi Penyelamat (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Pemangkasan komisi ojek online (ojol) dari 20% menjadi 8% untuk aplikator dan untuk driver dari 80% menjadi 92% dinilai akan berdampak pada pendapatan dan tingkat profitabilitas aplikator.

Gojek melalui induknya PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sudah menyampaikan berkomitmen akan mengikuti aturan terbaru dari pemerintah via Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 tentang komisi terbaru untuk layanan GoRide.

Aplikator lainnya, Grab Indonesia juga akan berkoordinasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan implementasi Perpres tersebut bagi mitra pengemudi transportasi roda dua nantinya akan berjalan dengan lancar.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Airlangga Rumayya Batubara menilai penyesuaian komisi dari 20% ke 8% ini jelas berdampak pada pendapatan aplikator termasuk GoTo, dalam hal ini pendapatan dari roda dua.

“GoTo sendiri mengakui itu (ada dampak pada pendapatan roda dua). Tapi apakah ini langsung mengancam keberlanjutan bisnis mereka? Tidak otomatis,” katanya di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Dia menegaskan profit perusahaan memang akan tergerus, tapi bisnis mereka tidak akan jatuh. Namun dia menegaskan, yang justru perlu diwaspadai adalah nasib pengemudi.

“Penurunan komisi aplikator tidak otomatis berarti penghasilan driver naik. Kalau tarif konsumen ikut naik, penumpang bisa berkurang, order turun, dan ujungnya pendapatan driver justru stagnan atau bahkan turun. Niatnya baik, tapi tanpa kebijakan tarif yang komprehensif, hasilnya bisa berbalik,” katanya.

Dia mengatakan para aplikator termasuk Goto dan Grab sejak awal tidak menaruh semua telur di satu keranjang. Mereka bukan cuma aplikasi ojek, tetapi terdiversifikasi dengan lini bisnis keuangan teknologi atau fintech, ada layanan logistik, dan berbagai lini ekosistem digital lain yang bisa saling menopang.

“Sepanjang 2025, pendapatan bersih fintech GoTo saja tumbuh 62% menjadi Rp5,8 triliun. Selain itu, efisiensi operasional berbasis AI juga menjadi salah satu faktor yang membantu GoTo mencetak laba bersih pertama kalinya pada kuartal I 2026. Jadi kalau satu lini terkena tekanan regulasi, bukan berarti seluruh bisnis langsung goyah,” katanya.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya