Kurangi Batu Bara, Biomassa Sekam Padi Dipasok untuk Cofiring PLTU Indramayu

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Senin 25 Mei 2026 20:54 WIB
Kurangi Batu Bara, Biomassa Sekam Padi Dipasok untuk Cofiring PLTU Indramayu (Foto: Dokumentasi PLN EPI)
Share :

JAKARTA - Biomassa pellet sekam padi dipasok untuk kebutuhan cofiring PT PLN Nusantara Power UP PLTU Indramayu. Dengan adanya pasokan biomassa ini dapat mengurangi ketergantungan batu bara.

Pasokan biomassa melalui penandatanganan kerja sama PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) dengan PT Bumi Wiralodra Indramayu (BWI) terkait jual beli biomassa pellet sekam padi untuk kebutuhan cofiring PT PLN Nusantara Power UP PLTU Indramayu.

Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya dalam memperkuat ekosistem bioenergi nasional sekaligus mendukung target transisi energi dan Net Zero Emission (NZE). Dalam kerja sama tersebut, PLN EPI bertindak atas nama PT PLN Nusantara Power sebagai pengguna akhir biomassa di pembangkit.

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan, kolaborasi tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat pemanfaatan biomassa berbasis limbah pertanian di daerah.

“Ini tentu atas kerja sama mitra. Kami ingin PT BWI tetap menjadi partner strategis kami. Kita harus terus berkolaborasi meningkatkan kualitas karena masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan,” kata Hokkop dalam keterangannya, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Dia menyebut performa dan kapasitas produksi biomassa dari sekam padi masih sangat mungkin ditingkatkan. Bahkan, menurutnya, target produksi hingga 3.200 sampai 3.300 ton bukan sesuatu yang sulit dicapai.

“Untuk menyentuh angka 3.200 sampai 3.300 sebenarnya sangat mungkin. Tinggal bagaimana penyesuaian teknis di tim produksi dan operasional,” ujarnya.

Hokkop menegaskan, PLN EPI ingin kerja sama tersebut tidak hanya berhenti pada penandatanganan kontrak, tetapi terus berkembang melalui peningkatan volume pasokan.

“Kalau amendemen itu penambahan volume, artinya masuk kelas akselerasi. Volumenya terus bertambah, berarti kerja sama dan kapasitasnya juga meningkat,” katanya.

Dirinya mengapresiasi langkah PT BWI yang dinilai berhasil mengembangkan potensi sekam padi menjadi biomassa bernilai ekonomi tinggi.

Menurut Hokkop, kerja sama ini menjadi tindak lanjut konkret setelah sebelumnya PLN EPI menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Kabupaten Indramayu terkait pengembangan biomassa dan ekonomi sirkular daerah. Kabupaten Indramayu merupakan salah satu lumbung padi nasional memiliki potensi besar limbah sekam yang dapat dioptimalkan menjadi pellet biomassa berkualitas tinggi.

 

Sementara itu, Direktur Utama BWI Robani Hendra Permana mengatakan, pihaknya serius mengembangkan bisnis biomassa karena melihat besarnya potensi limbah sekam padi di Indramayu.

“Kami serius ingin menjadi salah satu pemain biomassa di Indonesia. Indramayu memiliki luas sawah sekitar 127 ribu hektare dengan produksi gabah mencapai 1,6 juta ton per tahun,” ujar Robani

Dari jumlah tersebut, kata dia, potensi sekam padi di Indramayu diperkirakan mencapai sekitar 300 ribu ton per tahun. Namun demikian, ia mengakui tantangan utama terletak pada proses pengumpulan sekam yang tersebar di 31 kecamatan.

“Tantangannya bagaimana mengumpulkan sekam-sekam yang tersebar luas. Semakin jauh jaraknya dengan pabrik, tentu membutuhkan biaya yang semakin besar,” katanya.

Untuk mendukung pengembangan biomassa, BWI telah berinvestasi pada tiga mesin produksi dengan kapasitas masing-masing 1.000 ton per bulan.

“Artinya kapasitas kami saat ini sekitar 3.000 ton per bulan. Kalau kontrak dengan PLN mencapai 6.000 ton, mudah-mudahan dalam tiga sampai empat bulan bisa selesai,” ujar Robani

Saat ini, produksi BWI masih berada di kisaran 1.500 ton per bulan atau sekitar 50 persen dari kapasitas terpasang. Namun, perusahaan siap meningkatkan produksi apabila kebutuhan pasokan biomassa bertambah.

Dia menambahkan, pengembangan biomassa tidak hanya mendukung transisi energi, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar.

“Produksi 1.000 sampai 1.500 ton saja sudah melibatkan sekitar 60 orang mulai dari pengumpul, pengangkut hingga produksi. Kalau nanti kapasitas naik menjadi 3.000 sampai 4.000 ton per bulan, mungkin lebih dari 100 orang bisa terlibat,” ujarnya.

Selain mendukung kebutuhan energi pembangkit, kerja sama ini juga berkontribusi pada penguatan ekonomi sirkular daerah, pemberdayaan masyarakat lokal, serta peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Indramayu. Kolaborasi kedua pihak mencakup pengelolaan rantai pasok biomassa, optimalisasi fasilitas produksi, serta penerapan standar kualitas dan kuantitas melalui mekanisme pengujian yang transparan dan akuntabel guna menjaga performa operasional pembangkit.

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya