"Kan gini, pada waktu APBNpertama kan ada asumsinya berapa? 16.500, ya? Tapi kan terus ada simulasi pada waktu harga BBM naik Tinggi, kan? Ya, kita hitung di situ. adjustment cukup tinggi," ungkap Purbaya.
Lebih lanjut, Menkeu tetap optimistis bahwa pelemahan rupiah saat ini bersifat temporer akibat sentimen pasar. Secara fundamental ekonomi riil, posisi mata uang Indonesia dinilai jauh lebih kuat daripada nilai yang tertera di papan perdagangan saat ini.
"Tapi kan saya nggak sebutan kan, dan nanti rupiah melemah signifikan. tp basically, fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang. Lebih kuat dari yang sekarang," tegasnya.
Guna meredam volatilitas dan menahan kejatuhan nilai tukar serta menjaga instrumen keuangan domestik tetap menarik, Purbaya membeberkan bahwa pemerintah bersama otoritas terkait terus bergerak aktif melakukan intervensi di pasar keuangan.
Ia bahkan memberikan bocoran mengenai nilai dana yang telah digelontorkan untuk menyerap Surat Berharga Negara (SBN) di pasar obligasi guna menjaga yield tetap stabil.
"Masuk terus. Mungkin 8 triliun lebih yang diobligasi, ya," ungkap Purbaya.
Langkah intervensi tersebut diklaim mulai membuahkan hasil positif terhadap persepsi risiko jangka panjang Indonesia, di mana tingkat imbal hasil obligasi tenor 10 tahun menunjukkan tren yang terkendali.
"Tapi itu yang nggak boleh diomongin, ya. Nggak apa-apa, biar Anda tahu, saya intervensi sedikit. Terus 10 tahun kan relatif stabil atau cenderung turun. jadi dampaknya ada," pungkas Purbaya.
(Taufik Fajar)