Namun, hanya ada sedikit bukti kemajuan diplomatik dengan Iran, terlepas dari klaim sebaliknya dari Washington setidaknya sejak akhir Maret.
Sementara itu, Laporan ketenagakerjaan AS akan menjadi sorotan utama hari ini. Data Nonfarm Payrolls (NFP) diperkirakan akan menunjukkan peningkatan 85.000 pekerjaan pada bulan Mei, sementara Tingkat Pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,3 persen selama periode yang sama.
Tanda-tanda pelemahan yang mengejutkan di pasar tenaga kerja AS dapat melemahkan Dolar AS dan mendukung harga komoditas yang didenominasi dalam US Dollar seperti emas.
Dari sentimen domestik, Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 4,7 persen pada 2026, turun dari 4,8 persen dalam laporan sebelumnya. OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi baru kembali menguat ke level 5 persen pada 2027 setelah tekanan eksternal mulai mereda.
OECD menilai kenaikan biaya energi dan ketidakpastian global akan membebani konsumsi rumah tangga serta investasi, seiring pelemahan pasar tenaga kerja domestik. Meski melambat, ekonomi Indonesia dinilai masih lebih resilien dibandingkan banyak negara berkembang lain karena ketergantungan yang lebih rendah terhadap impor energi dari kawasan tersebut.
OECD mencatat ekonomi Indonesia sebenarnya memulai 2026 dengan cukup kuat. Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,6 persen secara tahunan pada kuartal I 2026, ditopang permintaan domestik dan belanja pemerintah yang melonjak 21,8 persen.
Konsumsi rumah tangga dan investasi juga tetap solid setelah pelonggaran kebijakan moneter sepanjang 2025 mendorong penurunan biaya pinjaman. Namun, sejumlah indikator terbaru mulai menunjukkan pelemahan momentum ekonomi. Penjualan ritel tercatat turun 1,9 persen secara tahunan pada April 2026. Keyakinan konsumen juga mulai melemah, terutama terkait ekspektasi lapangan kerja.
Di sisi lain, tekanan inflasi mulai meningkat akibat lonjakan harga energi global. OECD memperkirakan inflasi Indonesia naik menjadi 3,4 persen pada 2026 dari sebelumnya 1,9 persen pada 2025. Kenaikan tersebut dipicu dampak lanjutan harga energi global terhadap harga domestik, meski pemerintah masih menahan harga BBM subsidi.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.030-Rp18.100 per dolar AS. Sedangkan untuk minggu depan berada di range Rp17.950-Rp18.250 per dolar AS.
(Taufik Fajar)