Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp18.036 per Dolar AS

Anggie Ariesta, Jurnalis
Jum'at 05 Juni 2026 15:46 WIB
Rupiah Hari Ini (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup naik 13 poin atau sekitar 0,07 persen ke level Rp18.036 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat (5/6/2026).

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari Pemimpin Hizbullah Naim Qassem pada hari Kamis menolak kesepakatan yang dimediasi AS antara Israel dan pemerintah Lebanon untuk menghentikan pertempuran. Iran telah menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai syarat untuk setiap kesepakatan perdamaian dengan Washington.

“Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Kamis bahwa ia percaya kemajuan sedang dicapai antara Israel dan Lebanon dan bahwa Lebanon pantas mendapatkan perdamaian,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Israel terus melakukan serangan udara di Lebanon selatan, yang memicu serangan balasan dari Hizbullah. Pejabat Israel mengisyaratkan bahwa pasukan tidak akan menarik diri dari Lebanon selatan atau menghentikan operasi di negara itu, setelah jeda singkat awal pekan ini.

Perkembangan ini semakin melemahkan harapan akan kesepakatan perdamaian AS-Iran, mengingat Teheran telah berulang kali mengisyaratkan bahwa gencatan senjata Lebanon sangat penting untuk setiap perjanjian perdamaian yang langgeng.

Laporan awal pekan ini menunjukkan Iran telah menghentikan negosiasi tidak langsung dengan AS, setelah Teheran menuduh Washington melanggar gencatan senjata mereka dengan serangan baru-baru ini. AS menyerang beberapa target di Iran pekan ini, yang memicu serangan balasan oleh Garda Revolusi terhadap target Amerika di Kuwait dan Beirut.

Serangan-serangan itu terjadi bahkan ketika para pejabat AS menegaskan bahwa kesepakatan damai dengan Iran sudah dekat dan pembicaraan sedang berlangsung.

 

Namun, hanya ada sedikit bukti kemajuan diplomatik dengan Iran, terlepas dari klaim sebaliknya dari Washington setidaknya sejak akhir Maret.

Sementara itu, Laporan ketenagakerjaan AS akan menjadi sorotan utama hari ini. Data Nonfarm Payrolls (NFP) diperkirakan akan menunjukkan peningkatan 85.000 pekerjaan pada bulan Mei, sementara Tingkat Pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,3 persen selama periode yang sama.

Tanda-tanda pelemahan yang mengejutkan di pasar tenaga kerja AS dapat melemahkan Dolar AS dan mendukung harga komoditas yang didenominasi dalam US Dollar seperti emas.

Dari sentimen domestik, Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 4,7 persen pada 2026, turun dari 4,8 persen dalam laporan sebelumnya. OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi baru kembali menguat ke level 5 persen pada 2027 setelah tekanan eksternal mulai mereda.

OECD menilai kenaikan biaya energi dan ketidakpastian global akan membebani konsumsi rumah tangga serta investasi, seiring pelemahan pasar tenaga kerja domestik. Meski melambat, ekonomi Indonesia dinilai masih lebih resilien dibandingkan banyak negara berkembang lain karena ketergantungan yang lebih rendah terhadap impor energi dari kawasan tersebut.

OECD mencatat ekonomi Indonesia sebenarnya memulai 2026 dengan cukup kuat. Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,6 persen secara tahunan pada kuartal I 2026, ditopang permintaan domestik dan belanja pemerintah yang melonjak 21,8 persen.

Konsumsi rumah tangga dan investasi juga tetap solid setelah pelonggaran kebijakan moneter sepanjang 2025 mendorong penurunan biaya pinjaman. Namun, sejumlah indikator terbaru mulai menunjukkan pelemahan momentum ekonomi. Penjualan ritel tercatat turun 1,9 persen secara tahunan pada April 2026. Keyakinan konsumen juga mulai melemah, terutama terkait ekspektasi lapangan kerja.

Di sisi lain, tekanan inflasi mulai meningkat akibat lonjakan harga energi global. OECD memperkirakan inflasi Indonesia naik menjadi 3,4 persen pada 2026 dari sebelumnya 1,9 persen pada 2025. Kenaikan tersebut dipicu dampak lanjutan harga energi global terhadap harga domestik, meski pemerintah masih menahan harga BBM subsidi.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.030-Rp18.100 per dolar AS. Sedangkan untuk minggu depan berada di range Rp17.950-Rp18.250 per dolar AS.

(Taufik Fajar)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya