Kondisi tersebut, kata Hendra, tercermin dari masih besarnya aksi jual bersih (net sell) investor asing yang sejak awal tahun telah mencapai sekitar Rp83 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap prospek pasar Indonesia belum sepenuhnya pulih, meskipun MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market.
Tekanan terhadap pasar juga masih terlihat dari pergerakan nilai tukar rupiah yang pada perdagangan pagi ini berada di kisaran Rp17.933 per dolar AS.
Sejalan dengan itu, pelemahan rupiah tersebut menjadi salah satu indikator bahwa investor global masih mencermati berbagai risiko yang melekat pada perekonomian domestik, terutama terkait keberlanjutan fiskal, kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta arah arus modal asing ke depan.
Hendra mewanti-wanti bahwa selama belum terdapat katalis fundamental yang cukup kuat untuk mendorong perubahan sentimen secara signifikan, pergerakan IHSG diperkirakan akan lebih banyak bergerak dalam pola sideways dengan volatilitas tinggi.
“Secara teknikal, level 5.677 menjadi area support penting yang perlu dipertahankan untuk menjaga momentum pasar, sementara level 6.977 menjadi area resistance utama yang akan menjadi ujian bagi upaya penguatan indeks dalam jangka menengah,” ungkapnya.
Atas dasar itu, Hendra menekankan bahwa penguatan yang lebih berkelanjutan baru berpotensi terjadi apabila pemerintah mampu menunjukkan komitmen yang kuat dalam menjaga disiplin fiskal, mengendalikan defisit anggaran, menjaga stabilitas rupiah, serta mendorong kembalinya aliran dana asing ke pasar domestik.