Pengiriman Barang Berpendingin Kereta Api Tembus 9.352 TEUs hingga Mei 2026

Feby Novalius, Jurnalis
Rabu 01 Juli 2026 12:02 WIB
Volume angkutan komoditas berpendingin melalui layanan reefer container berbasis kereta api meningkat hingga Mei 2026. (Foto: Okezone.com/KAI Logistik)
Share :

JAKARTA - Volume angkutan komoditas berpendingin melalui layanan reefer container berbasis kereta api meningkat hingga Mei 2026. Volume angkutan tercatat sekitar 9.352 TEUs, meningkat 39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut menunjukkan meningkatnya kebutuhan industri terhadap sistem logistik berpendingin (cold chain) yang dapat menjaga kualitas, keamanan, dan kesegaran produk selama proses distribusi. Layanan angkutan berpendingin ini digunakan untuk berbagai komoditas seperti produk pangan segar dan olahan, hasil perikanan, serta produk farmasi yang memerlukan pengendalian suhu.

VP of Commercial KAI Logistik, Ferdian Pardosi, mengatakan bahwa pertumbuhan angkutan reefer mencerminkan meningkatnya kebutuhan distribusi berpendingin di berbagai sektor industri.

“Pertumbuhan angkutan reefer menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan layanan logistik berpendingin seiring berkembangnya sektor pangan, perikanan, hingga farmasi di Indonesia,” ujar Ferdian, Rabu (1/7/2026).

Di sisi lain, pengembangan rantai pasok berpendingin masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan infrastruktur cold storage, biaya operasional, kebutuhan pasokan energi yang stabil, serta kompleksitas pengelolaan suhu selama distribusi. Sebagai negara kepulauan dengan iklim tropis, pengendalian suhu dalam distribusi logistik menjadi tantangan tersendiri.

Moda transportasi kereta api dinilai memiliki sejumlah keunggulan dalam distribusi logistik jarak menengah hingga jauh, seperti kapasitas angkut yang besar, jadwal operasional yang relatif teratur, serta potensi efisiensi distribusi. Penggunaan reefer container juga membantu menjaga stabilitas suhu selama perjalanan.

Dalam pengoperasiannya, sistem rantai dingin memerlukan dukungan infrastruktur di titik-titik transit, termasuk fasilitas penyediaan daya listrik untuk kontainer berpendingin di terminal operasional agar suhu tetap stabil selama proses penanganan.

Ke depan, pengembangan sistem logistik berpendingin diperkirakan masih akan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan distribusi produk sensitif suhu di berbagai sektor industri.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya