JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana menggelar groundbreaking pembangunan fasilitas pengolahan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) untuk Proyek Abadi Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.
Proyek Lapangan Abadi Masela telah dikembangkan sejak 1998, setelah penandatanganan kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) antara Pemerintah Indonesia dan perusahaan migas asal Jepang, Inpex Corporation. Namun, 28 tahun setelah kontrak tersebut ditandatangani, proyek itu hingga kini belum memasuki tahap produksi.
Prosesi groundbreaking hari ini akan dihadiri Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang dijadwalkan mendampingi Presiden Prabowo Subianto sekaligus memimpin peletakan batu pertama pembangunan fasilitas produksi gas terbesar di Indonesia tersebut.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, lambatnya pembangunan proyek yang molor hingga 28 tahun itu disebabkan oleh perdebatan panjang mengenai pembangunan fasilitas produksi di tengah laut (offshore) atau di darat (onshore) agar dapat menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
"Perdebatannya dari saya masih ketua umum HIPMI, perdebatannya hanya di laut atau di darat, itu terus, sampai kita meninggal mungkin masih ada perdebatan itu," kata Bahlil di Jakarta, 11 November 2025.
Sebagai informasi, volume produksi proyek ini diproyeksikan mencapai 10,5 juta ton LNG per tahun. Jumlah tersebut terdiri atas 9,5 juta ton LNG per tahun dan diperkirakan setara dengan lebih dari 10 persen kebutuhan impor LNG tahunan Jepang. Selain itu, blok migas tersebut juga diproyeksikan mampu memproduksi sekitar 35 ribu barel kondensat per hari.
Bahlil juga sempat melaporkan bahwa sejumlah tahapan krusial telah menunjukkan perkembangan positif, termasuk proses Front End Engineering and Design (FEED) Proyek Masela. Pemerintah menargetkan proyek yang dioperasikan Inpex Corporation bersama mitranya itu mulai berproduksi pada periode 2029–2030 guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai USD20 miliar atau sekitar Rp339 triliun. Menurut Bahlil, percepatan proyek menjadi penting karena Lapangan Abadi Masela memiliki peran strategis sebagai sumber pasokan gas bagi industri nasional sekaligus pendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Indonesia Timur.
(Feby Novalius)