JAKARTA - Pergantian Gubernur Bank Indonesia (BI) di tengah tekanan ekonomi global dan domestik menjadi tantangan tersendiri bagi penguatan nilai tukar Rupiah. Siapapun yang nantinya memimpin bank sentral akan menghadapi pekerjaan berat untuk membawa Rupiah menguat di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan fiskal dalam negeri.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan Rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan moneter, tetapi juga faktor eksternal dan kondisi ekonomi domestik yang masih menghadapi sejumlah tantangan.
"Siapapun yang menjadi Gubernur Bank Indonesia saat ini akan sangat sulit untuk memperkuat Rupiah. Karena persoalannya bukan hanya dari sisi kebijakan moneter, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global dan persoalan ekonomi dalam negeri," ujar Ibrahim, Senin (27/7/2026).
Ibrahim mengatakan kondisi ekonomi global saat ini masih belum stabil akibat konflik geopolitik yang terus berlangsung, mulai dari perang di Timur Tengah hingga konflik Rusia-Ukraina yang belum menemukan penyelesaian.
Menurutnya, konflik yang meluas ke sejumlah wilayah seperti Yaman, Arab Saudi, Turki, hingga Ukraina turut memberikan tekanan terhadap pasar keuangan global, termasuk nilai tukar Rupiah.