Ketika Laut Mahakam Menolak Menyerah

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Rabu 05 Agustus 2026 08:58 WIB
Ketika Laut Mahakam Menolak Menyerah (Foto: Dokumentasi PHI)
Share :

Peningkatan Produksi Migas Nasional

Di satu sisi, Indonesia terus mempercepat transisi menuju energi yang lebih bersih. Namun transisi tidak berarti meninggalkan migas begitu saja.  

Gas bumi tetap menjadi energi transisi yang menjembatani kebutuhan saat ini menuju sistem energi rendah karbon. Karena itu, menjaga keberlanjutan produksi gas nasional sama pentingnya dengan membangun sumber energi baru.

"Keberhasilan pemasangan jacket dan topside Platform Offshore Manpatu merupakan hasil kerja keras, sinergi, dan komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam menjalankan proyek secara selamat, andal, dan sesuai target. Pencapaian ini menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keberlanjutan operasi dan mendukung peningkatan produksi migas nasional.” kata Setyo.

Setelah mulai berproduksi yang ditargetkan pada kuartal pertama 2027, Lapangan Manpatu diproyeksikan menambah pasokan gas sekitar 80 juta kaki kubik per hari atau sekitar 20 persen dari total produksi Wilayah Kerja Mahakam. Angka tersebut bukan sekadar statistik dalam laporan produksi.

Gas yang diproduksi dari dasar Laut Mahakam akan mengalir menuju pembangkit listrik, kawasan industri, pabrik pupuk, serta berbagai aktivitas ekonomi yang menjadi denyut kehidupan jutaan masyarakat.

Energi yang lahir dari laut Kalimantan pada akhirnya akan menerangi rumah-rumah, menggerakkan mesin-mesin industri, menjaga produktivitas sektor usaha, sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional.

Inilah makna sesungguhnya dari ketahanan energi. Ia tidak dimulai ketika listrik menyala di rumah.

Ia dimulai jauh di tengah laut, ketika para insinyur menghitung setiap milimeter pemasangan struktur baja, ketika operator mengawasi setiap tekanan pada sistem, dan ketika ratusan pekerja memastikan seluruh proses berjalan aman.

Lebih dari sekadar pembangunan fasilitas produksi, Manpatu memperlihatkan bagaimana kolaborasi menjadi kekuatan utama industri hulu migas Indonesia. Keberhasilan proyek ini tidak mungkin lahir dari satu institusi.

Ia merupakan hasil sinergi antara pemerintah, SKK Migas, PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) selaku induk perusahaan, perusahaan fabrikasi dalam negeri, tenaga ahli, hingga para pekerja offshore yang selama berbulan-bulan bekerja dalam kondisi yang tidak pernah mudah.

Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk merancang, membangun, dan mengoperasikan proyek migas lepas pantai dengan standar keselamatan dan rekayasa kelas dunia.

“Inilah upaya kami mendukung target produksi migas nasional dan menjaga ketahanan energi Indonesia,” katanya.

Libatkan Pekerja Lokal

Sementara, Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menyampaikan bahwa Proyek Manpatu yang dijalankan oleh PHM ini merupakan proyek yang signifikan berkontribusi terhadap upaya menjaga lifting migas di wilayah Kalimantan Timur. 

Dirinya mengapresiasi pelibatan lebih dari 360 pekerja terampil asal Kalimantan Timur yang didatangkan dan bekerja untuk Proyek Manpatu di fasilitas fabrikasi di Tanjung Pinang tersebut. 

“Di saat banyak pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh beberapa perusahaan Kalimantan Timur, PHM memberikan kontribusi yang sangat berarti untuk penyerapan tenaga kerja terampil dari Kalimantan Timur," katanya.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya