Raup Cuan Lewat Budidaya Udang Windu Metode Silvofishery

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Kamis 13 Agustus 2026 08:05 WIB
Raup Cuan Lewat Budidaya Udang Windu Metode Silvofishery (Foto: Dokumentasi)
Share :

JAKARTA - Hamparan tambak tradisional membentang mengikuti garis pantai Desa Tanjung Buka, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Selama hampir dua dekade, Herman bersama anggota Kelompok Tani Tambak (KTT) Tias Berkah menggantungkan penghidupan keluarga dari budidaya udang windu.

Namun, perubahan kondisi lingkungan pesisir membuat usaha mereka menghadapi tantangan. Kualitas air laut yang semakin menurun turut membuat hasil panen udang windu tidak lagi stabil. Kondisi tersebut mendorong Herman dan kelompoknya mencari pola budidaya yang tidak hanya mampu menjaga produktivitas tambak, tetapi juga memulihkan ekosistem pesisir.

Titik balik itu datang pada 2024 melalui Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR). Bersama kelompoknya, Herman mulai mengadopsi silvofishery, metode budidaya yang mengintegrasikan tanaman mangrove dengan aktivitas perikanan di kawasan tambak.

Bagi Herman, pendekatan tersebut membuka pemahaman baru bahwa keberlanjutan tambak tidak harus berhadapan dengan pelestarian mangrove. Justru, keduanya dapat berjalan beriringan untuk menjaga produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir.

“Dulu kami khawatir kalau ada mangrove, ruang untuk udang akan semakin sempit. Akarnya besar dan kami takut mengurangi area tambak,” ujar Herman.

Kekhawatiran tersebut perlahan terjawab melalui pendampingan intensif M4CR. Proses dimulai melalui sosialisasi prakondisi dengan pendekatan Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (PADIATAPA), kemudian dilanjutkan dengan edukasi melalui sekolah lapang.

Para petambak tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai teknik penanaman dan pemeliharaan mangrove, tetapi juga dibekali pemahaman mengenai pengelolaan tambak. Mulai dari manajemen buka-tutup pintu air, pengendalian salinitas, hingga pemantauan pH air dilakukan untuk menciptakan kondisi yang lebih sesuai bagi pertumbuhan udang.

Berbekal pengetahuan tersebut, KTT Tias Berkah kemudian merehabilitasi kawasan mangrove seluas 77 hektare, dengan pola tanam sekitar 800 bibit per hektare.

Pekerjaan tidak berhenti setelah bibit ditanam. Herman bersama anggota kelompok secara rutin melakukan penyulaman terhadap tanaman yang mati, membersihkan gulma, serta memantau pertumbuhan mangrove.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Tingkat keberhasilan tumbuh mangrove mencapai 87%, sekaligus membawa perubahan pada kondisi tambak.

Produksi udang windu yang sebelumnya berkisar 100–150 kilogram per panen, kini meningkat menjadi sekitar 150–300 kilogram per panen.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya