Atas dasar pertimbangan tersebut, Bank Indonesia mengambil langkah aktif dalam memandu arah ekosistem digital nasional guna memastikan transformasi teknologi tetap menjadi instrumen strategis untuk memperluas manfaat ekonomi bagi seluruh lapisan masyarakat.
Lebih lanjut, Thomas menyampaikan bahwa kompleksitas persoalan multidimensi saat ini mustahil dituntaskan oleh bank sentral secara mandiri tanpa kerja sama dengan pihak lain.
“Kolaborasi lintas negara dan jaring pengaman keuangan kawasan dibutuhkan sebagai perisai bersama dalam menghadapi dinamika siklus keuangan global,” ujar Thomas.
Pentingnya menjaga ekosistem ini turut ditegaskan oleh Peraih Nobel Ekonomi 2025, Peter Howitt, yang memaparkan dua jalur utama pendorong inovasi sebagai motor pertumbuhan jangka panjang.
Jalur pertama bertumpu pada faktor nonfinansial, yakni terciptanya iklim persaingan usaha yang sehat serta kepastian perlindungan hak kekayaan intelektual. Jalur kedua mengandalkan kekuatan dan stabilitas sektor keuangan dalam menopang pembiayaan bagi laju inovasi di suatu negara.
Lebih jauh, Howitt menggarisbawahi peran vital bank sentral dalam mengawal stabilitas harga sebagai jangkar keberlanjutan arus inovasi. Lonjakan inflasi dinilai dapat meningkatkan ketidakpastian serta membebani biaya pendanaan, sementara guncangan di pasar finansial berisiko menekan aktivitas riset dan pengembangan (R&D) yang sangat menentukan kapasitas inovasi jangka panjang.