JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menekankan urgensi inovasi dalam memperkuat sektor moneter guna menghadapi pergeseran lanskap global yang kian kompleks akibat disrupsi teknologi, krisis iklim, serta fragmentasi geoekonomi.
Di tengah dinamika tersebut, inovasi diposisikan sebagai mesin utama pendorong pertumbuhan, sementara stabilitas ekonomi dan sistem keuangan bertindak sebagai jangkar penopang agar inovasi dapat tumbuh dengan aman.
Oleh sebab itu, terbangunnya sinergi kebijakan lintas otoritas hingga tingkat antarnegara menjadi suatu keharusan.
Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono menegaskan bahwa stabilitas merupakan prasyarat mutlak bagi kemajuan sebuah negara saat proses penghancuran kreatif (creative destruction) terus menggerakkan dinamika perekonomian.
Sebagai garda penjaga stabilitas makrofinansial, bank sentral dinilai memegang peran kunci dalam menciptakan iklim yang aman bagi perkembangan inovasi. Kondisi ini menuntut bauran kebijakan moneter terintegrasi untuk terus berinovasi secara adaptif dalam merespons guncangan ekonomi yang semakin tidak linear.
“Teknologi membawa efisiensi, tetapi efisiensi tidak boleh terpisah dari kemanusiaan. Inklusivitas tidak datang dengan sendirinya bersama teknologi, melainkan harus dirancang ke dalamnya,” kata Thomas dalam keterangan resmi, dikutip Senin (31/8/2026).
Atas dasar pertimbangan tersebut, Bank Indonesia mengambil langkah aktif dalam memandu arah ekosistem digital nasional guna memastikan transformasi teknologi tetap menjadi instrumen strategis untuk memperluas manfaat ekonomi bagi seluruh lapisan masyarakat.
Lebih lanjut, Thomas menyampaikan bahwa kompleksitas persoalan multidimensi saat ini mustahil dituntaskan oleh bank sentral secara mandiri tanpa kerja sama dengan pihak lain.
“Kolaborasi lintas negara dan jaring pengaman keuangan kawasan dibutuhkan sebagai perisai bersama dalam menghadapi dinamika siklus keuangan global,” ujar Thomas.
Pentingnya menjaga ekosistem ini turut ditegaskan oleh Peraih Nobel Ekonomi 2025, Peter Howitt, yang memaparkan dua jalur utama pendorong inovasi sebagai motor pertumbuhan jangka panjang.
Jalur pertama bertumpu pada faktor nonfinansial, yakni terciptanya iklim persaingan usaha yang sehat serta kepastian perlindungan hak kekayaan intelektual. Jalur kedua mengandalkan kekuatan dan stabilitas sektor keuangan dalam menopang pembiayaan bagi laju inovasi di suatu negara.
Lebih jauh, Howitt menggarisbawahi peran vital bank sentral dalam mengawal stabilitas harga sebagai jangkar keberlanjutan arus inovasi. Lonjakan inflasi dinilai dapat meningkatkan ketidakpastian serta membebani biaya pendanaan, sementara guncangan di pasar finansial berisiko menekan aktivitas riset dan pengembangan (R&D) yang sangat menentukan kapasitas inovasi jangka panjang.
Oleh karena itu, kerangka regulasi yang dirumuskan bank sentral dituntut mampu menjaga titik keseimbangan antara ketahanan stabilitas sistem keuangan dan dukungan nyata terhadap akselerasi inovasi.
Arah kebijakan tersebut sejalan dengan pandangan Daron Acemoglu, Peraih Nobel Ekonomi 2024, yang menempatkan peran negara sebagai pilar penting dalam mengarahkan manfaat kemajuan teknologi.
Menurut Acemoglu, arah pengembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (artificial intelligence), akan menjadi penentu apakah kemajuan yang dicapai mampu memperkokoh stabilitas ekonomi dan kesejahteraan publik atau justru memperdalam jurang kesenjangan sosial.
Dia menegaskan bahwa peningkatan kapasitas kelembagaan dan penguatan tata kelola merupakan prasyarat mendasar agar lompatan teknologi dapat menghadirkan kemaslahatan yang luas bagi umat manusia.
(Feby Novalius)