Haryo juga menyoroti geliat industri dalam negeri yang tercermin melalui PMI Manufaktur September 2026 yang melesat ke posisi 52,4 setelah sempat berada di level 49,8 pada Agustus lalu. Kondisi tersebut menandai kembalinya sektor manufaktur ke fase ekspansi.
Pemulihan ini dipicu oleh masuknya pesanan baru, peningkatan kapasitas produksi, naiknya pesanan dari pasar ekspor, bergulirnya proyek baru, serta membaiknya daya beli konsumen.
Sepanjang September 2026, laju pertumbuhan pesanan baru mencatat rekor tercepat sejak Februari 2026, sementara permintaan ekspor menorehkan ekspansi paling pesat sejak Mei 2022. Tren ekspansif ini diiringi oleh kembali naiknya serapan tenaga kerja pabrikan, volume pembelian barang, hingga persediaan bahan baku.
Dari sisi biaya, tekanan inflasi pada harga input maupun output melambat ke titik terendah dalam enam bulan terakhir, diiringi tingkat optimisme pelaku usaha yang tetap tinggi terhadap prospek produksi 12 bulan mendatang.
“Ke depan, kebijakan pemerintah akan tetap diarahkan untuk menjaga daya beli, mendorong investasi dan produksi, serta meningkatkan daya saing industri nasional. Dengan fondasi stabilitas yang terjaga dan aktivitas ekonomi yang kembali menguat, kita ingin memastikan momentum ini berlanjut dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,” urai Haryo.
(Feby Novalius)