JAKARTA - Stok beras di Indonesia disebut telah mencapai 5,3 juta ton. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan Indonesia tidak lagi perlu membuka lahan sawah baru hingga jutaan hektare untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo mengatakan pemerintah sebelumnya menyiapkan rencana perluasan lahan sawah hingga 2 juta-3 juta hektare untuk mendukung kebutuhan pangan nasional.
Namun, rencana tersebut dinilai tidak lagi diperlukan seiring tercapainya swasembada beras lebih cepat.
“Seharusnya tahun 2029 Pak Prabowo kasih target ke Pak Amran, ternyata Kementerian Pertanian sudah bisa melaksanakan tiga tahun lebih awal,” ujar Hashim pada Rabu (7/10/2026).
“Pemerintah sekarang tidak perlu lagi melaksanakan perluasan lahan sawah yang 2 juta hektare, 3 juta hektare yang diumumkan 2 tahun yang lalu, tidak perlu lagi,” lanjutnya.
Ia menambahkan, tingginya stok beras nasional bahkan membuat kapasitas gudang Bulog penuh. Pemerintah pun perlu memanfaatkan gudang milik swasta untuk menampung cadangan beras.
“Saya dengar dari Pak Amran kemarin saya bicara, sudah 5,3 juta ton,” ujar Hashim.
Selain memperkuat kebutuhan dalam negeri, stok beras yang tinggi juga membuka peluang bagi Indonesia untuk kembali memasuki pasar ekspor. Hashim menyebut Indonesia telah memiliki kontrak ekspor beras sebanyak 500 ribu ton ke Malaysia.
“Sekarang kita sudah punya kontrak untuk ekspor 500 ribu ton beras ke Malaysia,” katanya.
Hashim menyebut ekspor tersebut menjadi momentum penting setelah Indonesia dalam waktu yang cukup panjang tidak melakukan ekspor beras. Menurut dia, kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan domestik sekaligus membuka pasar ekspor menunjukkan penguatan sektor pangan nasional.
Ia juga mengaitkan peningkatan produksi pangan dengan agenda perlindungan lingkungan. Menurutnya, ketika kebutuhan pangan dapat dipenuhi melalui peningkatan produksi, pemerintah tidak harus membuka lahan pertanian baru dalam skala jutaan hektare.
Hashim mengatakan kondisi tersebut mulai menarik perhatian investor internasional karena menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan upaya menjaga lingkungan dapat berjalan secara bersamaan.
(Taufik Fajar)