nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ekspor Indonesia Tergelincir di 2013

Silvia Ramadhani, Jurnalis · Rabu 25 Desember 2013 17:18 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2013 12 25 320 917295 fCcrX0RO2k.jpg Ilustrasi. (Foto: timeshighereducation)

JAKARTA - Angka ekspor Indonesia di tahun 2013 terus tergelincir ke posisi lebih rendah dari tahun 2012. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Mei 2013 ekspor Indonesia mengalami penurunan sebesar 4,49 persen dibanding periode yang sama pada Mei 2012.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia pada bulan Januari-Mei 2013 mencapai angka USD76,25 miliar atau menurun 6,46 persen dibanding periode yang sama tahun 2012. Penurunan ini juga terjadi pada ekspor nonmigas yang mencapai USD62,78 miliar atau menurun 2,28 persen.

Di tengah kondisi tersebut BPS juga mencatat,  pada 2013 hingga Bulan Mei, China menjadi negara tujuan ekspor nonmigas terbesar, dimana pada bulan Mei, ekspor ke negara ini mencapai USD1,72 miliar. Posisi ini kemudian disusul Jepang yang nilai ekspor mencapai USD1,44 miliar dan India USD1,32 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 33,94 persen.

Sementara itu, ekspor ke Uni Eropa  yang meliputi 27 negara, nilai ekspor Indonesia mencapai USD1,44 miliar. Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Mei 2013, terjadi pada komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati sebesar USD311,9 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada benda-benda yang terbuat dari besi dan baja sebesar USD25,1 juta.

Di sisi lain, dari ekspor hasil industri periode Januari-Mei 2013, didapat penurunan angka sebesar 1,55 persen dibanding periode yang sama tahun 2012. Hal ini juga terjadi pada  ekspor hasil tambang dan komoditas lainnya yang ikut turun 5,63 persen.

Berita baiknya, di tengah keterpurukkan tersebut, ekspor hasil pertanian Indonesia justru merambat naik sebesar 3,49 persen. Meski demikian, kondisi ini belum mampu mengangkat presentase ekspor Indonesia yang berada di angka lebih rendah jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi memburuknya sektor ekspor Indonesia, menurut Kepala BPS Suryamin, tidak hanya berhenti di Bulan Mei. Hingga menjelang akhir tahun, aktivitas ekspor masih belum menunjukkan adanya peningkatan. Dia menyampaikan, pada bulan September, nilai ekspor Indonesia sempat mengalami kenaikan  USD14,81 miliar atau sebesar  13,19 persen dari bulan sebelumnya. Namun jika dibandingkan dengan tahun lalu, angkanya justru menurun 6,85 persen.

 

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-September 2013 mencapai  USD134,05 miliar  atau menurun 6,25 persen dibanding periode yang sama tahun 2012. Untuk ekspor nonmigas September 2013, nilainya mencapai  USD12,29 miliar atau naik 18,63 persen dibanding Agustus 2013. Tapi dibanding ekspor September 2012 ini turun 6,35 persen. Peningkatan terbesar ekspor nonmigas September 2013 juga masih terjadi pada komoditas yang sama dengan Mei sebelumnya, yakni lemak dan minyak hewan (nabati) sebesar  USD351,2 juta. Sementara penurunan terbesar terjadi pada timah senilai  USD121 juta.

 

Ekspor nonmigas ke China pada September 2013 juga masih tetap mencapai angka terbesar yaitu  USD1,62 miliar, disusul Jepang USD1,39 miliar, Amerika Serikat USD1,30 miliar. Kontribusi ketiga negara ini mencapai 35,01 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa tercatat sebesar USD1,38.

 

Jika dilihat per sektor, ekspor hasil industri pada periode Januari-September 2013 turun sebesar 4,22 persen dibanding periode yang sama tahun 2012. Demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya turun 2,34 persen. Sebaliknya, kenaikan terjadi pada  ekspor hasil pertanian sebesar 1,65 persen.

 

Di sisi lain, nilai impor Indonesia pada Mei 2013 berada pada angka  USD16.664,4 juta atau naik  USD200,9 juta atau 1,22 persen jika dibanding impor April 2013. Meningkatnya nilai impor tersebut disebabkan oleh naiknya impor nonmigas sebesar USD393 juta (3,06 persen), sedangkan impor migas mengalami penurunan sebesar USD192,1 juta (5,29 persen).

 

Secara lebih rinci penurunan impor migas tersebut disebabkan oleh turunnya nilai impor minyak mentah dan gas masing-masing sebesar USD383,0 juta (27,34 persen) dan USD4,2 juta (1,88 persen). Sementara itu, impor hasil minyak justru meningkat sebesar USD195,1 juta (9,73 persen).

Selama Januari−Mei 2013, nilai impor Indonesia mencapai USD78.778,5 juta atau mengalami penurunan sebesar USD943,2 juta (1,18 persen) dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Yang menyedihkan, penurunan ternyata terjadi pada impor nonmigas sebesar USD1.437,7 juta atau 2,33 persen, sedangkan impor migas justru mengalami peningkatan sebesar USD494,5 juta  atau 2,73 persen.

Selain itu, Indonesia mengalami peningkatan impor migas disebabkan oleh naiknya impor minyak mentah sebesar USD1.040 juta atau 21,94 persen. Sedangkan di sisi lain, impor hasil minyak dan gas menurun, masing-masing sebesar USD276,1 juta (2,35 persen) dan USD269,4 juta (16,89 persen).

Pada September 2013, nilai impor Indonesia juga naik mencapai 18,86 persen atau senilai   USD15,47 miliar. Namun, masih menurut Suryamin, secara kumulatif impor Januari-September 2013 mencapai 140,31 miliar dolar AS atau turun 1,17 persen dibanding periode yang sama 2012. Adapun negara pemasok barang impor terbesar nonmigas masih didominasi China dengan nilai USD2,7 miliar. Urutan berikutnya,  Jepang (USD1,51 miliar), lalu Singapura (USD0,88 miliar).

(wdi)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini