JAKARTA - PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) optimistis dapat mengembangkan bisnis aspal untuk market ekspor dan domestik. Hal ini sejalan dengan terjalinnya kerjasama untuk melakukan pengolahan residu dari salah satu kilang milik PT Pertamina (Persero) yang berlokasi di Cilacap, Jawa tengah.
Direktur Utama WIKA Bintang Perbowo mengatakan, yang akan mengembangkan bisnis pengolahan aspal dari Pertamina ini adalah unit bisnis baru yakni PT Sarana Karya (Persero).
"Yang akan kita olah mungkin sekitar 50.000 ton residu per tahun dari Pertamina dari kilangnya yang di Cilacap. Mungkin sekarang lebih, karena kan Pertamina juga berencana akan meningkatkan produksinya tahun ini," ungkap Bintang dalam acara media gathering WIKA, di Jakarta, Kamis (9/1/2014).‬
Menurut Bintang, volume produksi aspal yang dihasilkan dari residu yang diterima dari Pertamina tersebut akan menghasilkan aspal siap pakai dengan volume 20 persen lebih banyak.
"Itu nanti kalau sudah diolah, akan nambah 20 persen. Jadi kalau residu dari dia (Pertamina) 50.000 ton per tahun, aspalnya bisa 60.000 ton per tahun. Kalau 100.000 ton, ya hasil aspalnya tinggal tambah 20 persen saja," kata Bintang.
Bintang melanjutkan, untuk pemanfaatan aspalnya sendiri secara umum volume ekspor dan konsumsi domestik akan mempunyai jumlah yang sama. Meski demikian, dalam implementasinya dimungkinkan akan lebih diutamakan pada penggunaan domestik.
"Untuk ekspor sekitar 10.000-25.000 ton per tahun, domestik juga sekitar segitu. Jadi seimbang. Tapi kalau ada proyek-proyek dalam negeri akan kita prioritaskan, karena ini Kanada unsur sinergitas. Di domestik sendiri nantinya bisa kita manfaatkan sendiri, bisa juga kita jual ke pihak lain," tutupnya.
Sekadar informasi, pada akhir 2013, WIKA merampungkan akuisisi 100 persen PT Sarana Karya (persero) milik pemerintah yang memproduksi aspal, yaitu sebanyak 5 ribu lembar saham atau senilai Rp50 miliar.
(Martin Bagya Kertiyasa)