Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sabet Gelar SE, Rianti Justru Sukses Jadi Make-Up Artist

Rani Hardjanti , Jurnalis-Sabtu, 16 Agustus 2014 |12:08 WIB
Sabet Gelar SE, Rianti Justru Sukses Jadi <i>Make-Up Artist</i>
Sabet gelar SE, Rianti justru sukses jadi Make-Up Artist. (Foto: Dok Pribadi)
A
A
A

JAKARTA – Saat menikah, Rianti kaget dengan tagihan jasa salon panggilan untuk mendadani keluarganya yang cukup mahal. Tetapi siapa sangka, dari peristiwa itu Rianti justru berkecimpung di usaha jasa rias wajah.

Awalnya perempuan yang akrab disapa Iie ini melihat jasa rias wajah sebagai pekerjaan yang mudah. Menurutnya, jasa rias wajah sangat menguntungkan, tidak membutuhkan waktu terlalu lama, dan berpindah-pindah ke rumah pelanggan yang lainnya. Apalagi setelah lulus kuliah ekonomi strata I di Universitas Trisakti, dia belum menemukan pekerjaan yang sesuai harapan.

“Kebetulan waktu itu sudah nikah. Rata-rata syarat fresh graduate kan belum menikah. Pernah mengaku belum menikah, tapi saya kok jadi kepikiran sendiri, kalau lagi kerja terus tiba-tiba hamil takut kena denda dari kontrak kerja atau bisa-bisa dikira hamil di luar nikah lagi,” ujarnya kepada Okezone.

Rianti pun menjadi bingung apa yang harus dilakukan. Melihat situasi itu, ayahanda Rianti menyarankan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi yakni pascasarjana. Namun, semangat untuk belajar secara formal sudah pudar. Lalu dia terbesit ide untuk membuat usaha salon panggilan seperti yang dia lihat saat akan menikah dan mengikuti kursus make-up di Martha Tilaar.

Saat itu sang ayah mengizinkan, namun dengan catatan menjadi siswa terbaik dan sungguh-sungguh menjalankan. Nyatanya, untuk mempelajari tata rias bukanlah perkara yang mudah. Ada banyak materi yang perlu dia pelajari, seperti fashion and photography, tata rias pengantin tradisional, Sunda Putri, Yogya Putri, Solo Putri, serta koreksi mata dan wajah untuk pengantin.

“Padahal, saya tidak punya teman sama sekali yang kursus make-up di situ. Itu asli ide saya yang terlontar begitu saja. Alhamdulillah pas lulus, saya benaran dapat nilai terbaik. Dan, waktu ikut lomba antarsiswa Martha Tilaar, saya meraih juara 2,” cerita Rianti yang juga mengantongi titel Diploma CIBTAC.

Dia mulai mendirikan jasa rias, atau yang saat ini disebut make-up artist, pada 2006. Pelanggan pertama pun datang, yakni seorang ibu yang dalam kondisi sakit stroke, dengan posisi mata yang tidak sinkron. “Jadi, matanya turun sebelah karena sakit. Dia memarahi saya, karena dia mau hasil riasan posisi mata kiri dan kanan menjadi sejajar. Saya sampai keringat dingin,” cerita dia.

Lalu seiring berjalannya waktu, klien silih berganti berdatangan, baik untuk rias pengantin, riasan pesta, ataupun rias wisuda. Namun, dia tidak puas hanya sampai di situ. Rianti terus mengikuti sejumlah seminar dan workshop untuk mengasah kemampuan.

Dalam mengembangkan usaha, dia terinspirasi oleh perias senior (almarhum) Tien Santoso. Menurutnya, hasil riasan Tien Santoso selalu rapi, sesuai pakem riasan, mempunyai misi untuk mempertahankan budaya Indonesia secara utuh, dan menghasilkan riasan ‘panglingi’ atau hasil yang memukau berbeda dengan wajah aslinya.

“Saat pertama kali saya ikut workshop Beliau, enggak tahu kenapa saya sampai menangis saking kagumnya. Auranya keibuan sekali, kayaknya pengantin yang diriasnya itu nyaman sekali,” tutur dia.

Rianti pun membocorkan rahasia usahanya jika ingin serius di jasa make-up artis. Kuncinya, harus terus berlatih di banyak ragam wajah. Untuk tahap awal, jangan memasang tarif yang mahal. Gunakan kesempatan itu melatih tangan.

Sementara tantangan bagi jasa make-up artist adalah mencocokkan produk yang dimiliki dengan kondisi kulit klien, baik dari segi warna maupun jenis kulit. Hal itu dilakukan agar klien aman dan bisa tampil cantik seperti yang diharapkan. “Artinya, kita harus punya banyak alat perang (kosmetik) dan itu modalnya mahal sekali. Selain itu, kalau ada orderan merias dini hari. Jadi, jam dua pagi mencari alamat klien,” tuturnya berkelakar.

Lama-kelamaan usahanya terus berkembang. Banyak yang puas dengan hasil polesan Rianti. “Tanda-tanda pelanggan cocok dengan riasan kita adalah dia akan menggunakan jasanya lagi,” ujar Rianti yang kini sudah memiliki pegawai paruh waktu.

Modal Jasa Make-Up Artist

Mengenai modal, Rianti harus merogoh kocek yang cukup dalam. Tidak hanya menggunakan kosmetik yang bermutu bagus, namun juga seminar dan workshop untuk memperbarui tren terbaru bisa menghabiskan angka jutaan Rupiah.

“Merek kosmetik yang saya pakai seperti YSL, Giorgio Armani, Channel, MAC. Dan, untuk sekali seminar bisa sampai Rp3 juta. Kursus Martha Tilaar pada waktu itu Rp25 juta. Tetapi, semua itu demi kualitas dan kepuasan klien,” imbuhnya.  



Rianti saat merias kliennya. (Foto: Dok Pribadi)

Secara spesifik, menurut Rianti, hitung-hitungan jasa make-up artist tidak sama dengan berjualan produk. Sebab, kebutuhan make-up setiap klien berbeda-beda. Misalkan, ada yang membutuhkan banyak base foundation dan ada yang tidak.

“Cara mengitungnya berbeda dengan berjualan makanan. Kalau kita, satu botol kosmetik bisa terpakai untuk satu tahun. Make-up artist itu sama dengan pekerja seni. Jadi modalnya enggak bisa dihitung, karena akan terus upgrade ‘alat perang’ ketika melihat ada produk baru yang lebih bagus,” tuturnya.  

Saat ini usaha sektor make-up artist sangat menjamur, khususnya bagi kaum Hawa. Sebab pada dasarnya perempuan gemar berdandan dan prospeknya sangat baik. Bahkan kini, Rianti kebanjiran permintaan dari teman-temannya untuk diajari merias wajah. Berkat kecekatan melihat potensi usaha, ia bisa mengantongi hingga Rp25 juta dalam satu bulan.

Tidak terasa Rianti sudah menggeluti usaha ini selama delapan tahun. Namun, nama usahanya yang diberi nama Flawless Beauty ini justru tenggelam. Tetapi, nama Rianti-lah yang membawa hoki. Uniknya, arti dari nama Rianti adalah ‘perempuan Indonesia’. Hal itu sesuai dengan usaha yang digelutinya, yaitu merias wajah sesuai adat di Indonesia.

Apakah Rianti sudah puas dengan usahanya? “Belum, saya ingin terus mengembangkan dan meningkatkan hasil riasan. Saya juga ingin sekali membuat one stop wedding seperti Sanggar Liza yang dikelola oleh ibu dan anak-anak perempuannya. Mudah-mudahan saya dan anak-anak saya bisa seperti itu,” ujar ibu dari dua anak ini.

 

(Rani Hardjanti)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement