"Akibatnya krisis moneter menjadi krisis ekonomi kan hubungannya daya beli," paparnya,
Dirinya pun sudah mendapat laporan mengenai potensi PHK secara masal. Indikasi tersebut terlihat dari kinerja perusahaan, lantaran di beberapa perusahaan sudah melakukan efisiensi dengan mengurangi jam kerja pada buruh atau pekerjanya.
"Yang di capital intensive, kaya otomotif dan lain-lain belum ada laporan terjadi PHK. Yang terjadi adalah merumahkan karyawan, maksudnya itu dalam seminggu 5 hari kerja, 3 hari kerja, 2 hari di rumah," ungkap Said.
Untuk industri padat karya (labour intensive) sendiri, lanjut Said mengatakan telah menerima laporan PHK, namun PHK tersebut karena habisnya masa kontrak.
"PHK yang terjadi kepada karyawan kontrak yang sudah habis masa kontraknya, yang tidak diperpanjang kontrak nya. Jadi ini sebenarnya kelaziman menjelang lebaran, sebelum-sebelumnya juga gitu," imbuh dia.