Dirinya mengklaim, perlambatan ekonomi yang terjadi disumbang di dalam negeri karena melemahnya daya beli masyarakat, akibat pemerintah telah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada beberapa bulan lalu. Padahal, kebijakan pemerintah menaikan BBM tidak tepat karena harga minyak dunia sedang turun.
"Harga-harga melambung tinggi bukan hanya faktor Ramadan dan Lebaran. Jauh hari sebelum Ramadan harga melambung tinggi gara-gara lebaran, transportasi melambung tinggi, sewa rumah melambung tinggi, padahal gaji enggak naik, itu yang buat daya beli turun. Daya beli masyarakat turun akibat kenaikan harga BBM tidak tepat saat itu, padahal di saat yang bersamaan harga minyak mentah dunia turun di level terendah," cetusnya.
Dirinya kembali mengkritik pemerintah yang tidak mau menurunkan harga BBM dengan harga minyak dunia yang semakin turun, padahal disatu sisi persoalan nuklir Iran sudah hampir selesai, sehingga Iran tidak di blokade dan dapat memborbardir, menjual minyak mentahnya ke dunia.
"Tetapi pemerintah tidak mau menurunkan harga minyak, malah menerbitkan Pertalite. Apa akibatnya, ya daya beli masyarakat atau buruh makin turun, karena tidak ada kenaikan gaji tadi. Minyak mentah sudah makin turun, alasannya karena Pertamina masih rugi, masa kerugian Pertamina ditanggung rakyat. Itu yang harus dipahami," tandasnya.
(Rizkie Fauzian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.