Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kebutuhan Industri Jadi Alasan Maraknya Impor Garam di RI

Raisa Adila , Jurnalis-Jum'at, 25 September 2015 |11:45 WIB
Kebutuhan Industri Jadi Alasan Maraknya Impor Garam di RI
Ilustrasi: (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Persoalan garam yang terjadi di Indonesia diakibatkan oleh masuknya garam impor yang berlebihan pada saat petani lokal melakukan panen garam. Akan tetapi, hal tersebut dianggap guna memenuhi kebutuhan garam sektor industri.

Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Karyanto Suprih mengatakan, pihak Kemendag sebenarnya menginginkan tidak adanya impor garam demi neraca perdagangan Indonesia. Akan tetapi, permasalahan saat ini, garam dalam negeri dinilai tidak mencukupi khususnya bagi industri.

"Begini tolong bedain garam industri sama garam konsumsi. Gitu saja. Kalau garam industri kan enggak bisa nunggu panen. Kan dia ada pola bulan ini dia mesti produksi ini," jelas Karyanto saat ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (25/9/2015).

Sementara itu, untuk garam konsumsi, lanjutnya, pihak Kemendag tidak pernah sama sekali menerbitkan impor garam. Hal ini karena garam konsumsi masyarakat harus disuplai dari industri dalam negeri.

"Jadi gini, semua orang berpendapat tapi tujuan utama dari deregulasi ini adalah meningkatkan daya saing dari industri. Di dalam berbicara dengan industri kan berbicara kepastian pasok bahan baku, bagitu," kata dia.

Oleh sebab itu, Karyanto mengatakan, untuk sementara pihaknya belum menutup impor garam. Sebab, peraturan mengenai impor garam tersebut masih berlaku pada tahun ini.

"Sementara kan Permendagnya masih berlaku lama. Nanti deregulasi itu akan tidak perlu rekomendasi," kata dua.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti merasa kesal dengan impor garam yang berlebihan masuk saat panen tiba. Pasalnya, hal ini hanya akan membunuh petani garam di Indonesia.

(Fakhri Rezy)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement