Share

Greenpeace: Kebakaran Hutan Warisan Kerusakan Industri Kehutanan

ant, Jurnalis · Kamis 08 Oktober 2015 16:14 WIB
https: img.okezone.com content 2015 10 08 320 1228468 greenpeace-kebakaran-hutan-warisan-kerusakan-industri-kehutanan-iC9ETIS731.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Greenpeace menyatakan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di berbagai daerah di Tanah Air merupakan warisan kerusakan dari industri kehutanan yang telah mengeksploitasi hutan untuk sejumlah komoditas.

"Kebakaran ini mengingatkan kita tentang warisan kerusakan dari industri sawit dan pulp," kata Pemimpin Kehutanan Greenpeace Asia Tenggara Bustar Maitar dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis.

Untuk itu, menurut Bustar Maitar, pihak perusahaan juga perlu menghadapi tantangan dan bekerja bersama untuk mematahkan kaitan antara produksi komoditas dan penghancuran hutan.

Ia berpendapat bahwa kebijakan antiperusakan hutan yang unilateral ternyata telah gagal.

"Perusahaan perlu menghapus insentif ekonomi untuk menghancurkan hutan, dengan pelarangan perdagangan dengan siapapun yang memusnahkan hutan," ujarnya.

Greenpeace juga telah mengambil rekaman gambar dari pesawat tanpa awak (drone) yang menunjukkan kebakaran tanah gambut secara masif di Indonesia.

Rekaman diambil di sekitar tepian Taman Nasional Gunung Palung, sebuah suaka besar keanekaragaman hayati di Kalimantan Barat, Indonesia.

Rekaman itu menunjukkan api yang berkobar di tanah gambut dalam, di seputar taman nasional dan konsesi kelapa sawit di dekatnya, akibat dari puluhan tahun pembalakan liar dan penggundulan hutan untuk perkebunan kelapa sawit dan pulp.

Taman Nasional Gunung Palung memuat populasi terbesar orang utan yang bertahan di dunia.

Sedangkan pada bulan Juli dan Agustus 2015, api menyebar di Taman Nasional Tesso Nilo di Riau, Sumatra, sebuah wilayah penting dalam habitat harimau, yang sudah rusak oleh pembalakan ilegal termasuk untuk pengembangan kelapa sawit.

Kebakaran juga dilaporkan terjadi di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

Sebelumnya, Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim Rachmat Witoelar mengatakan perlu bukti-bukti kuat untuk menyatakan sumber kebakaran hutan yang terjadi di beberapa provinsi di Indonesia dan mengakibatkan kabut asap parah.

Hal ini disampaikan Rachmat Witoelar menanggapi adanya beberapa analisis terkait sumber titik api, baik dari pakar maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM).

"Perlu dibuktikan agar tidak menimbulkan fitnah," kata Rachmat Witoelar dalam perbincangan usai dirinya menjadi pembicara dalam "Climate Week" yang diadakan Indonesia Climate Alliance (ICA).

Beberapa pakar dan LSM memang seakan berlomba mengumumkan hasil pengamatannya tentang penyebab kebakaran hutan, walau secara resmi belum ada pernyataan pemerintah.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini