JAKARTA - Tas khusus ASI atau cooler bag sangat dibutuhkan para ibu menyusui. Melihat potensi tersebut, pria ini langsung mendapatkan ide bisnis.
Di kalangan ibu menyusui, GabaG bukanlah nama yang awam. Ya, Gabag adalah salah satu tas ASI perasan yang banyak digunakan para pejuang ASI.
Di balik kesuksesan produk ini, ternyata terdapat sosok pria bertangan dingin bernama Fandy Sundoro. Pria yang saat ini menjabat sebagai Direktur sekaligus Founder GabaG mau berbagi pengalamannya dalam mengembangkan GabaG.
Fandy mengaku, ide awal bisnisnya tersebut datang dari pengalaman pribadinya. Kala itu istrinya sedang menyusui. Namun dengan mobilitas dari istrinya yang tinggi, Fandy mengaku kurang puas dengan tas ASI yang ada. Di mana kala itu produk tas ASI hanya berbentuk konvensional
"Dengan mobilitasnya yang tinggi, kami berpikir, sepertinya cooler bag konvensional tidak bisa menyanggupi. Karena bentuknya hanya kotak biasa. Akhirnya muncul ide untuk buat sendiri," tuturnya saat dihubungi Okezone.
Dengan ketidakpuasannya terhadap tas ASI yang ada, Fandy pun menyadari bahwa ada peluang bisnis. Alhasil dirinya memutuskan untuk mencoba menjadikan peluang tersebut menjadi ladang usahanya.
Namun, dirinya tidak serta merta langsung terjun ke dalam bisnisnya itu. Fandy mengaku melakukan riset terlebih dahulu terkait kebutuhan dan suplai tas ASI yang ada di toko-toko perlengkapan ibu dan bayi.
"Kami survei terlebih dahulu. Ternyata belum ada tas ASI yang stylish dan multifungsi. Saat itu lebih banyak yang bentuknya hanya kotak, jadi cuma satu ruang saja," imbuhnya
Di 2011, Fandy bersama istrinya mencoba untuk memproduksi beberapa model tas ASI. Selain itu dia juga membuat kantong penyimpan asi dengan teknologi double insulated. Sehingga ASI yang di samping bisa menahan dingin minimal 16 jam dan panas minimal empat jam.
"Ternyata direspons cukup positif. Akhirnya kami pikir layak untuk dikembangkan, untuk ditingkatkan lagi model dan fungsinya," ucapnya.
Seiring berjalannya waktu, GabaG semakin dikenal dan dipilih oleh ibu-ibu menyusui. Produknya juga telah masuk ke hampir semua baby shop di Jabodetabek. Bukan hanya itu, penjualan GabaG juga gencar melalui toko online, sepeti Lazada.
Ratusan model tas ASI, juga telah diciptakan Fandy bersama istrinya. Motif dan warna yang diciptakan juga semakin kreatif. Mulai hanya dari perpaduan warna hingga motif etnik diciptakannya.
"Setidaknya setiap tahun kami menciptakan 15-20 model. Kalaupun modelnya sama, minimal coraknya berbeda. Jadi mungkin sudah ratusan," ujarnya.
Meskipun usahanya itu masih berskala UKM, namun melalui GabaG, Fandy mampu menyerap puluhan tenaga kerja. Tercatat untuk produksi saja dirinya mempekerjakan sekitar 60 orang.
Pasalnya dengan workshop seluas 180 meter persegi, GabaG bisa memproduksi 8 ribu tas per bulannya. Namun jumlah tersebut sepertinya akan semakin meningkat. Pasalnya Fandy mengaku sebentar lagi akan memindahkan workshopnya ke tempat dua kali lipat lebih luas.
"Lokasi saat ini sepertinya tidak memenuhi kapasitas, karena produksinya semakin bertambah. Tahun depan kami pindah ke Cikupa dengan luas sekitar 300 meter," pungkasnya.
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.