Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bangunan Bersejarah Peninggalan Arsitek Zaman Kolonial Hindia Belanda

Dhera Arizona Pratiwi , Jurnalis-Sabtu, 09 Juli 2016 |09:22 WIB
Bangunan Bersejarah Peninggalan Arsitek Zaman Kolonial Hindia Belanda
Hotel des Indes (Foto: Wikipedia)
A
A
A

Hanya sayangnya, beberapa bangunan bersejarah kreasi Ghijsels harus tergusur oleh bangunan-bangunan baru. Misalnya saja Hotel des Indes di Jalan Majapahit, Jakarta Pusat merupakan hotel terbesar dan tercantik di Nusantara karena memiliki bungalo-bungalo dengan pohon-pohon rindang di depannya. Di sini lah kebanyakan tamu negara dan turis asing menginap selama di Batavia. Hotel ini mulai terpinggirkan sejak Hotel Indonesia di Jalan MH Thamrin dibangun pada 1960-an. Yang lebih ironis, Hotel des Indes tamat riwayatnya pada 1971 setelah dirubuhkan dan dibangun kompleks pertokoan Duta Merlin. Sesuatu yang hingga kini masih disesalkan sejumlah kalangan.

Contoh lain adalah rencana ‘penambalan’ Benteng Vastenburg di kota Solo pada 2008, di mana di dalamnya akan dibangun hotel modern berlantai 13. Padahal, benteng yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Van Imhoff tahun 1745 ini sudah masuk kategori pusaka budaya yang dilindungi Undang-Undang untuk dijaga apa adanya. Selain itu, Kota Solo sendiri sebenarnya telah dikukuhkan sebagai kota pusaka (heritage city) pada acara Konferensi dan Ekspo Kota-kota Pusaka Dunia yang diselenggarakan di kota itu pada Oktober 2008.

Penggusuran atau apa pun namanya terhadap bangunan-bangunan bersejarah semestinya tidak perlu terjadi. Bank Dunia pernah menerbitkan sebuah buku berjudul Historic Cities and Sacred Sites: Cultural Roots for Urban Future (2001) yang intinya berpesan agar berbagai bangunan kuno tidak boleh dan tidak seharusnya dikorbankan hanya karena pertimbangan finansial dan kepentingan ekonomi semata. Jati diri sejarah akan menciptakan a sense of continuity (rasa berkelanjutan) dan juga a sense of place (rasa tempat) yang menumbuhkan a sense of pride (rasa bangga) bagi segenap warga bangsa.

[Baca Juga: Perpustakaan Tertua di Dunia Resmi Dibuka Kembali]

Menurut Prof Eko Budihardjo (2014), arsitek yang pakar perkotaan, dengan merawat bangunan sejarah berarti merawat jati diri sejarah kota. Kota yang baik adalah kota yang bisa menyuguhkan sejarah kota dan waktu ke waktu yang kasatmata, fisik, dan visual.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement