nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

TPPI dan RFCC Perkuat Industri Petrokimia

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 11 Juli 2016 10:49 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 07 11 320 1435250 tppi-dan-rfcc-perkuat-industri-petrokimia-ypJfswz19F.jpg Ilustrasi : Shutterstock

JAKARTA – Pengoperasian Kilang Trans Pacific Petroleum Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, dan Residual Fluid Catalytic Cracker (RFCC) Cilacap, Jawa Tengah, yang dikelola PT Pertamina (Persero) diyakini berdampak signifikan bagi perekonomian nasional.

Sebab, kedua kilang itu akan menjadi kompleks industri petrokimia terbesar di Tanah Air. Selain memasok kebutuhan industri dasar, pengoperasian kedua kilang itu juga akan mengurangi penggunaan devisa dengan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). ”Secara keseluruhan tentunya dengan beroperasi kedua kilang tersebut negara diuntungkan,” ujar Staf Pengajar Geoekonomi Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Dirgo Purbo dalam keterangan tertulis kemarin.

Potensi Kilang TPPI menjadi pusat pengembangan petrokimia sangat besar karena selain mampu memproduksi premium, solar, elpiji dan HOMC 92 (atau dikenal sebagai pertamax 92), juga dapat menghasilkan aromatik. Bahan-bahan turunan dimaksud antara lain, paraxylene, orthoxylene, benzene, dan toluene yang dibutuhkan oleh industri nasional.

”Ini adalah masa depan industri dasar petrokimia di Indonesia,” tegas Dirgo. Sedangkan RFCC Cilacap, selain memproduksi BBM, juga memproduksi petrokimia dengan peningkatan menonjol pada produksi paraxylene dari 280.000 barel per hari (bph) menjadi 485.000 bph. RFCC Cilacap juga mengembangkan pabrik produksi polypropylene baru untuk menaikkan produksi.

Proyek ini ditargetkan tuntas dan beroperasi pada 2021. Berdasarkan data Pertamina, pengoperasian RFCC Cilacap dan Kilang TPPI membuat impor premium turun sekitar 30-42 persen dan pengurangan impor minyak diesel/solar sebanyak 44 persen. Unit RFCC mengolah feed stock berupa LSWR sebanyak 62.000 barel per hari (bph) menjadi produk bernilai tinggi, yaitu HOMC 37.000 bph.

Sebagian besarnya produk HOMC diproses lebih lanjut untuk diproduksi menjadi premium, sehingga produksinya naik dari 61.000 bph menjadi 91.000 bph. Sementara, Kilang TPPI dapat mengolah sekitar 100.000 bph kondensat dan nafta. Dari pengolahan bahan baku dengan mogas mode akan diperoleh beberapa produk minyak, seperti elpiji, solar, fuel oil , premium, dan HOMC. TPPI dapat menghasilkan sekitar 61.000 bph premium, 10.000 bph HOMC, dan 11.500 bph solar.

Seiring pengoperasian RFCC Cilacap dan TPPI, sejak Mei 2016 Pertamina sudah tidak mengimpor solar, bahkan sudah surplus karena produksi nasional sudah mencapai 51 juta barel. Dan pada 2023 diperkirakan terjadi swasembada BBM karena produksi kilang mencapai 2 juta bph.

Direktur Eksekutif Energi Watch Indonesia Ferdinand Hutahean mengatakan, demi menuju swasembada BBM pada 2023 butuh upaya yang komprehensif. Menurut dia, yang utama harus dilakukan adalah pembangunan kilang minyak hingga mencapai kapasitas minimal 2 juta bph, meningkatkan bauran energi dengan bioenergi serta substitusi energi.

”Untuk mengoptimalkan kilang kita tidak hanya bisa berpangku pada minyak mentah lokal. Masalahnya juga belum tentu minyak mentah kita cocok diolah di kilang yang ada. Jadi, tetap harus ada kerja sama jangka panjang dengan produsen minyak dari luar,” tuturnya.

(rai)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini