JAKARTA - Penggunaan papan gipsum atau drywall di negara-negara maju terutama Eropa sudah berkembang pesat khsusnya pasca Perang Dunia II.
Di Asia sendiri terutama di Indonesia penggunaannya masih terbilang masih kalah dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia dan Singapura yang sudah mencapai rata-rata 1,5 meter persegi per kapita. (Baca juga: Kebutuhan Gipsum di Indonesia Masih Tinggi)
"Indonesia kita masih kecil, hanya 0,4 meter persegi per kapita rata-rata pemakaian gipsum," kata Managing Director PT Saint-Gobain Construction Products Indonesia Hantarman Budiono, usai Media Workshop Gyproc Dry Wall, di Jakarta, Kamis (21/7/2016).
Hantarman mengatakan, hal itu dikarenakan selain bahan material gipsum lebih dulu masuk ke negara tersebut, pemakaian papan gipsum juga telah menjadi gaya hidup seperti halnya di Eropa. (Baca juga: Sistem Drywall Mampu Hemat Biaya Konstruksi hingga 17%)
"Kalau di Eropa seperti Inggris dan Prancis saja sudah rata-rata 4 sampai 5 meter persegi per kapita, karena juga sudah modern ya gaya hidupnya, mereka juga ingin energinya irit dan suasana rumah comfort, yang kaya gitu kita belum sampai," ujarnya.
Hantarman juga mengatakan, pemerintah Singapura juga menargetkan 80 persen dari bangunan-bangunan yang ada di negara tersebut telah tersertifikasi 'green mark' pada 2030.
"Selain Eropa, Singapura jadi negara di Asia yang sudah banyak menggunakan drywall, pemerintah di sana telah mendorong untuk menggantikan bata sebagai upaya perlindungan terhadap lingkungan," pungkasnya.
(Rizkie Fauzian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.