JAKARTA - Direktur bank biasanya identik dengan kemewahan di perkotaan dengan segala fasilitas yang lengkap. Namun, tidak dengan direktur bank yang satu ini, yaitu direktur bank sampah.
Setiap hari, mereka harus bergelut dengan sampah dan limbah. Namun meski demikian, untung dari menjual sampah ini mencapai puluhan juta Rupiah, seperti yang dialami oleh seorang pemuda di Banjarnegara Jawa Tengah.
Bank yang terletak di desa Kasilib Banarnegara Jawa Tengah ini bukanlah bank penyimpanan uang, melainkan penyimpanan sampah dan limbah milik warga desa. Banjir yang menyumbat sungai akibat tumpukan sampah, membuat warga desa memiliki ide pembuatan bank sampah.
Layaknya sebuah bank, bank sampah ini memiliki 15 karyawan yang setiap hari jemput bola untuk mengambil kas sampah di kantong-kantong sampah yang telah tersedia
Perbedaan bank sampah Desa Kasilib ini dengan bank sampah di daerah lain adalah menggunakan sistem jemput bola sampah, sehingga pengelolaan dilakukan secara profesional dan memiliki kantor mulai dari resepsionis, admin hingga petugas kredit sampah. Warga pun bisa sewaktu-waktu mengambil uang dari hasil tabungan sampah tersebut.
Sejak didirikannya bank sampah lima tahun silam, kini desa tak pernah lagi kebanjiran, warga pun bebas dari sarang penyakit dan lokasi desa yang Seuk alami bebas sampah. Setiap hari puluhan kwintal sampah di antar ke pengepul besar, dengan menggunakan mobil operasional mandiri milik bank sampah.
Meski hanya mengandalkan pemungutan sampah, namun perputaran uang transaksi sampah mencapai puluhan juta Rupiah.
Nah, bagi anda yang tertarik bisnis bank sampah, mungkin bisa mencoba, selain membuat lingkungan sehat dan bebas dari banjir, mengelola sampah secara profesional juga bisa mendatangkan pundi-pundi Rupiah.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.