nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bangunan Adat Indonesia Tahan Gempa

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 15 Januari 2017 11:35 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 01 15 470 1591905 bangunan-adat-indonesia-tahan-gempa-0ahAwxW4TN.jpg (Foto: Okezone)

JAKARTA – Indonesia yang rawan gempa tektonik dan gempa vulkanik memiliki teknologi warisan nenek moyang yang sangat bernilai yaitu rumah tahan gempa.

Konstruksi bangunan adat yang umumnya berupa rumah panggung mampu menahan guncangan saat gempa bumi terjadi. Hasil budaya suatu bangsa yang paling mudah dikenali antara lain adalah ada bangunan-bangunan yang digunakan untuk melaksanakan kehidupan sehari-hari. Bangunan yang ada dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu bangunan tradisional yang meliputi rumah adat (rumah ketua adat), bangunan ibadah, bangunan musyawarah (balai adat), lumbung padi, dan sebagainya; dan rumah-rumah masyarakat kebanyakan yang disebut rumah vernakular.

Rumah vernakular merupakan bangunan yang khas, unik, berbeda dengan yang lain. Keunikannya ada pada sistem struktur bangunannya yang non engineered. Diturunkan dari tradisi kuno, rumah mampu bertahan terhadap lingkungan fisik (iklim, gempa, dan angin) serta sesuai dengan keinginan masyarakatnya. Ketua Kelompok Keahlian (KK) Teknologi Bangunan Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB Sugeng Triyadi mengatakan, rumah vernakular di Nusantara ini sangat banyak ragamnya, mulai dari Sabang hingga Merauke.

“Ditambah lagi bahwa setiap etnis mempunyai rumah vernakular lebih dari satu,” ungkap dia saat dihubungi.

Dia mencontohkan rumah vernakular Batak ada banyak macamnya antara lain RumahBatakToba, Karo, danMandaling. Rumah vernakular Jawa ada rumah Yogyakarta, Jawa Timur, Kudus, Banyumas, dan sebagainya. Rumah vernakular Sunda ada rumah Kampung Dukuh, Kampung Pulo, Kampung Naga, dan sebagainya. Pengetahuan teknologi bangunan pada rumah vernakular merupakan pengetahuan turun-temurun dari nenek moyang yang secara trial and error disempurnakan.

Teknologi bangunan inilah yang menjaga bangunan tetap berdiri, aman dihuni, dan tahan terhadap gangguan atau perilaku alam seperti gempa, angin ribut, banjir, tanahlongsor, dantsunami. Teknologi bangunan pada rumah vernakular adalah salah satu kearifan lokal rumah vernakular tersebut. Rumah vernakular Sunda, Jawa Barat, struktur bangunannya menggunakan bambu dengan sistem ikatan antarkomponen bangunannya serta panggung yang tingginya sekitar 60 cm.

Sistem struktur seperti ini, bila terjadi guncangan gempa, bangunan hanya bergoyang dan tidak mengalami kerusakan. Panggung setinggi 60 cm dimaksudkan untuk menjaga bangunan tetap utuh walau jatuh ke permukaan tanah bila terjadi tanah longsor. Ada juga Rumah Aceh yang struktur bangunannya dari kayu saling dikaitkan satu sama lain. Dikunci dengan baji atau pasak sehingga lebih dinamis dan tahan guncangan gempa (kokoh dan dinamis). Belum ada dalam sejarah Aceh gempa besar yang dapat merobohkan rumah adat Aceh.

Demikian pula bila habis terjadi gempa besar, sebagian besar masyarakat Aceh memeriksa baji atau pasak yang ada. Bila terlihat menonjol keluar, segera dikembalikan ke posisinya semula dengan dipukul. Dia menjelaskan, kehidupan masyarakat zaman dahulu sangat menyatu dengan alam sehingga perilaku alam sangat menjadi perhatian. Gempa menjadi salah satu pemicu mereka untuk membuat rumah yang aman dan nyaman. Rumah mereka dibangun dengan pengetahuan turun-temurun yang terus disempurnakan.

“Teknologi bangunannya sesuai dengan kemampuannya, sesuai dengan peralatan membangun yang dipunyai, menggunakan material yang ada, yaitu kayu dan sebagainya. Dengan begitu, pengetahuan membangun yang mereka miliki telah teruji oleh waktu dan terbukti andal sampai sekarang,” papar dia.

Dosen Program Studi Mitigasi Bencana IPB Boedi Tjahjono mengatakan, dari pengalamannya saat melakukan penelitian pascagempa, kebanyakan rumah yang rusakataupunrubuhbermaterial tembok atau beton.

Sementara rumah yang materialnya berasal dari kayu atau bambu cenderung bertahan. Rumah yang materialnya berasal dari kayu dan bambu memiliki kelenturan terhadap guncangan gempa. Kearifan lokal itu ternyata diadopsi oleh sejumlah negara seperti Jepang. Saat ini hampir semua rumah di Jepang berbahan dasar kayu atau bahan bangunan ringan yang lain. Masyarakat Jepang menyadari yang berbahaya dari gempa bukanlah peristiwanya, tetapi rubuhnya bangunan akibat gempa. Tidak heran kalau bencana gempa yang terjadi di Jepang tidak banyak menimbulkan jatuh korban jiwa. Apakah harga rumah tahan gempa tersebut lebih mahal?

Arsitek Probumi Alfian Hasan menegaskan tidak semahal bangunan gempa yang dalam penyelesaiannya lebih mengutamakan memperkokoh struktur bangunan. Menurutnya, rumah tahan gempa berdasarkan kearifan lokal lebih mengutamakan konstruksi yang lebih fleksibel.

“Bukan menguatkan, tetapi mengutamakan fleksibilitas,” kata dia.

Misalkan saja rumah joglo. Ada beberapa alasan mengapa rumah joglo lebih tahan terhadap gempa. Pertama, rangka utama (core frame) yang terdiri umpak, soko guru, dan tumpang sari, dapatmenahanbebanlateral yang bergerak horizontal ketika terjadi gempa.

Kedua, struktur rumah joglo yang berbahan kayu menghasilkan kemampuan meredam getaran atau guncangan yang efektif, lebih fleksibel, juga stabil. Struktur dari kayu inilah yang berfungsi meredam efek getaran/guncangan dari gempa. Ketiga, kolom rumah yang memiliki tumpuan sendi dan rol, sambungan kayu yang memakai sistem sambungan lidah alur dan konfigurasi kolom anak (sokosoko emper) terhadap kolom kolom induk ( soko-soko guru) merupakan earthquake responsive buildingdari rumah joglo.

“Mungkin saatnya kembali kepada kearifanlokal. Lebihnyaman, aman, dan murah,” ucap dia.

Rumah tahan gempa (RTG) diyakini mengurangi korban jiwa akibat bencana gempa bumi. Peneliti geoteknologi dan paleoseismologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto menjelaskan, RTG dirancang khusus, yakni konstruksi bangunan dibuat tidak permanen serta tembok yang dibuat ringan. Tak kalah penting, unsur strukturbangunansepertikolom rumah dan slope diperkuat, sementara unsur nonstruktur dibuat seringan mungkin seperti tembok.

“Di Jepang kebanyakan bangunan dibuat semipermanen di mana partisinya dibuat dengan bahan ringan,” jelas Eko.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini