OXFORD – Jurang kemiskinan di dunia kian lebar dan memprihatinkan. Meski mengalami kemajuan peradaban, pundi-pundi kekayaan hanya bertumpuk di lingkaran kecil.
Berdasarkan survei terbaru Oxfam, jumlah harta delapan orang terkaya di dunia sama besarnya dengan kekayaan 3,6 miliar penduduk termiskin di dunia. ”Jumlahnya separuh dari total penduduk di dunia. Kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin jauh lebih luas dibanding yang kami khawatirkan sebelumnya,” ungkap Oxfam di situs resminya.
Laporan tersebut dikeluarkan menjelang Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, yang biasanya dihadiri para pemimpin dan pebisnis dunia.
Kepala Urusan Eksternal Global Oxfam, Katy Wright, mengatakan laporan tersebut sengaja dirilis beberapa saat sebelum Forum Ekonomi Dunia digelar karena jurang kemiskinan kian dalam.
”Laporan itu ditujukan untuk membantu lembaga amal dalam menantang elite politik dan ekonomi. Forum Ekonomi Dunia bukan rahasia lagi hanyalah tempat diskusi tanpa keputusan atau aksi nyata oleh para elite dunia. Kami mencoba fokus di situ,” imbuh Wright.
”Ketidaksetaraan ekonomi disebabkan polarisasi politik,” tambahnya.
Oxfam merilis laporan serupa dalam empat tahun terakhir. Berdasar data yang ada, kesenjangan ternyata semakin melebar. Pada 2016, Oxfam menemukan sembilan orang terkaya di dunia memiliki kekayaan setara dengan total harta 3,6 miliar penduduk dunia yang merupakan penduduk miskin dunia. Padahal, angka taksiran sebelumnya adalah 62 orang terkaya di dunia.
Pada 2010 aset milik 43 orang terkaya di dunia sama dengan jumlah aset 50% penduduk miskin dunia. Ketidakmerataan telah menjadi isu beberapa tahun belakangan. Perhatian di antaranya diberikan Dana Moneter Internasional. Kebencian terhadap elite kaya itu juga turut membantu menaikkan popularitas kaum populis. Keprihatinan mengenai ini kembali menjadi perhatian dalam laporan risiko global tahunan WEF pekan lalu.
Ahli ekonomi Inggris Gerard Lyons menilai kesenjangan terjadi karena beberapa perusahaan menggunakan model bisnis yang egois. Mereka hanya fokus pada pemerkayaan diri sendiri dan eksekutif papan atas dengan menuntut profit tinggi. Di sisi lain, banyak orang bekerja keras, tapi tidak mampu meraih pendapat yang memadai.
Dia pun berharap pemerintahan menegakkan keadilan sehingga kekayaan bisa terdistribusi secara merata. ”Kami ingin pemerintah menyelidiki penggelapan pajak oleh para eksekutif dan menerapkan nilaipajakyanglebihtinggi kepada orang-orang kaya,” tegas Wright. ”Kami juga ingin pemimpin bisnis membayar gaji yang lebih tinggi dibanding upah minimum nasional (UMN) yang diterapkan pemerintah kepada para karyawan,” sambungnya.
Di sisi lain, laporan yang dirilis Oxfam juga menuai kritik. Mark Littlewood dari Institut Urusan Ekonomi menilai, Oxfam seharusnya fokus menjalankan misinya sebagai lembaga amal yang mencoba memberantas kemiskinan di dunia. ”Tapi, Oxfam kini tampaknya lebih khusyuk mengurusi orang kaya,” kata Littlewood, dikutip BBC.