Image

Begini Strategi Regulator Pasar Modal Jaring 180 Emiten Baru

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 17 Juli 2017, 11:38 WIB
https img k okeinfo net content 2017 07 17 278 1737885 begini strategi regulator pasar modal jaring 180 emiten baru Prs7aZ9MeA jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Jumlah perusahaan publik yang mencatatkan sahamnya (emiten) di Bursa Efek Indonesia (BEI) setiap tahun terus meningkat. Hal ini seiring upaya sosialisasi dan edukasi yang dilakukan regulator pasar modal. Saat ini, sebanyak 553 emiten tercatat di BEI.


Tapi, sebenarnya jumlah itu belum cukup memadai seiring makin tinggi minat investasi masyarakat terhadap instrumen investasi pasar modal. Bila dibandingkan dengan negara tetangga, jumlah emiten pasar modal Indonesia masih memiliki peluang pertumbuhan yang tinggi. Sampai Mei 2017, Singapura Exchange (SGX) tercatat memiliki 757 emiten.

Sedangkan Stock Exchange of Thailand (SET) mempunyai 665 emiten, apalagi dibanding dengan Bursa Malaysia (BM) yang memiliki lebih dari 900 perusahaan publik. Meskipun demikian, selama periode 2013 sampai Mei 2017, BEI mencatatkan pertumbuhan emiten sebesar 12,4%, sedikit di bawah SET yang tumbuh 13,9% pada periode yang sama.

Hal ini sangat positif, mengingat BM dan SGX mencatatkan penurunan. Tahun lalu hanya ada 16 perusahaan yang listing, sementara pada 2015 hanya 15 emiten, dan pada 2014 tercatat 20 emiten. Bila diakumulasi selama lima tahun terakhir (2012-2016), jumlah emiten hanya bertambah 78 perusahaan dari 459 emiten pada 2012 menjadi 537 pada akhir 2016.

Bagi pemodal, terutama institusi asing yang memiliki dana kelolaan besar, ketersediaan produk yang cukup merupakan syarat utama dalam berinvestasi. Sebab, hal tersebut sangat berpengaruh pada perolehan return maupun likuiditas dalam bertransaksi. Tidak heran bila asing lebih banyak menggelontorkan dananya di bursa-bursa dengan jumlah emiten dan kapitalisasi pasar yang besar.

Padahal, dari sisi infrastruktur perdagangan, Pasar Modal Indonesia terbilang kuat dan lengkap, bahkan sejajar dengan bursa-bursa negara maju di dunia. Didasari kondisi tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Nurhaida berkomitmen untuk menambah sedikitnya 180 emiten baru atau naik 32% dibanding jumlah emiten saat ini dalam lima tahun kedua masa jabatannya.

Target itu disampaikannya saat uji kelayakan dan kepatutan di hadapan Anggota Komisi XI DPR RI beberapa waktu lalu. Untuk mengejar target tersebut, menurut Nurhaida, OJK akan menyasar badan usaha milik negara (BUMN) maupun anak usahanya melantai di BEI.

“Guna mendukung penambahan emiten di pasar modal, kami akan mendorong agar perusahaan BUMN ataupun anak usahanya dapat IPO. Selanjutnya kami juga berencana agar perusahaan yang sudah listing (pencatatan saham perdana) di luar negeri, khususnya yang bergelut di sektor pertambangan, dapat juga melantai di BEI,” papar dia. Menurut dia, tentu saja OJK tidak bisa berjalan sendiri sehingga diperlukan kerja sama dengan instansi terkait, termasuk Kementerian BUMN maupun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Dari sisi internal, OJK berupaya mempercepat proses pengurusan izin IPO saham. Satu di antaranya mengimplementasikan sistem e-registrasi yang dipercaya bakal memberikan efisiensi waktu dan biaya pengurusan izin bagi calon emiten yang berbasis di daerah. “Kami juga akan mendorong debitur dengan nilai pinjaman lebih dari Rp1 triliun untuk masuk pasar modal,” imbuh dia.

Lebih jauh, peluang menambah jumlah emiten tidak hanya pada perusahaan besar, tapi juga mendorong IPO usaha kecil dan menengah (UKM) dan startup untuk menjadi emiten di BEI. Upaya itu sudah dilakukan oleh OJK dan BEI dengan mendirikan inkubator UKM dan startup di enam kota.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio mengatakan, inkubator tersebut merupakan fasilitas yang diberikan otoritas pasar modal untuk memberikan pembekalan tentang aspek hukum, penyusunan laporan keuangan, hingga memperkenalkan perusahaan rintisan kepada venture capital atau angel investor. Perusahaan-perusahaan tersebut nanti didorong untuk IPO.

Terkait sosialisasi dan edukasi yang juga menjadi faktor penting pendorong minat IPO, sejak tahun lalu BEI mendirikan Pusat Informasi Go Public (PIGP) yang bertujuan agar masyarakat mendapat informasi rinci mengenai manfaat serta cara untuk melepas saham atau go public. Saat ini sudah enam PIGP dioperasikan yang tersebar di Jakarta, Semarang, Bandung, Medan, dan Surabaya.

Berbagai strategi serta langkah yang telah dan akan dilakukan, serta komitmen OJK dalam meracik kebijakan dalam memudahkan IPO, meyakinkan BEI untuk dapat menggapai target 180 emiten baru sebagaimana dicanangkan OJK dalam lima tahun ke depan. “Komitmen regulator yang mendukung pengembangan pasar modal, ditambah kinerja industri yang positif dapat jadi memicu perusahaan melakukan IPO,” ungkap Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat.

Kondisi baik itu, menurut dia, sudah mulai terlihat dari jumlah emiten baru yang tercatat sejak awal 2017 sebanyak 19 emiten per 5 Juli 2017. Angka tersebut sudah melampaui capaian sepanjang 2016 yakni sebanyak 16 emiten.

Sementara sepanjang tahun ini, BEI menargetkan 35 emiten baru atau dua kali lebih banyak dari 2016. Samsul optimistis target tercapai mengingat terdapat sekira 26 perusahaan yang saat ini sedang dalam antrean melakukan IPO, termasuk dua di antaranya anak usaha BUMN.

*Kerja Sama Redaksi KORAN SINDO dan Bursa Efek Indonesia

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini