nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KRL Cikarang-Jakarta Beroperasi September, Harga Tiket Cuma Rp6.000

Koran SINDO, Jurnalis · Sabtu 29 Juli 2017 16:31 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 07 29 320 1746286 krl-cikarang-jakarta-beroperasi-september-harga-tiket-cuma-rp6-000-bXEs5ioZkk.jpg (Foto: Koran SINDO)

JAKARTA – PT Kereta Commuter Jakarta (KCJ) berencana mengoperasikan kereta rel listrik (KRL) Cikarang-Jakarta Kota pada September mendatang. Pengoperasian rute tersebut semakin memudahkan mobilitas masyarakat yang ingin ke Ibu Kota.

”Kalau tidak ada rintangan, September ini sudah bisa angkut penumpang dari Cikarang,” tutur Direktur Prasarana Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Zulfikri saat melakukan uji coba sistem persinyalan dan rel KRL lintas Cikarang-Jakarta Kota kemarin.

Menurut dia, operasi perdana kereta tersebut akan mengurangi perjalanan dua kereta api lokal yang selama ini telah beroperasi, yakni KA Walahar Ekspres dan KA Jatiluhur.

Kedua kereta tersebut nantinya hanya sampai Stasiun Cikarang, selanjutnya penumpang beralih menggunakan commuter line .

”Nantinya ada empat stasiun tambahan, yakni Bekasi Timur, Tambun, Cibitung, dan Stasiun Cikarang. Pembangunan dua stasiun, yakni Stasiun Bekasi Timur dan Cibitung selesai tahun ini,” tuturnya.

Lamanya rentang waktu antara uji coba dan operasi perdana kereta tersebut, kata dia, lantaran ada beberapa persyaratan yang harus dilengkapi, seperti safety assessment dari Menteri Perhubungan (Menhub) yang meliputi kemampuan operasional KRL mulai dari listrik aliran atas (LAA), persinyalan, hingga lalu lintas serta head time kereta dengan kereta lainnya, baik kereta lokal maupun jarak jauh.

”Prosesnya paling seminggu, kita akan mengajukan pada Senin (31/7) depan,” tutur Zulfikri.

Terkait dengan uji coba infrastruktur, Zulfikri menilai, sejauh ini sarana dan prasarana pendukung sudah cukup baik, termasuk LAA dengan kapasitas 4.000 kilowatt. Vice President Corporate Communication PT KCJ Eva Chairunissa menjelaskan, uji coba ini untuk melihat kesiapan infrastruktur dan persinyalan.

Sebab, persinyalan merupakan unsur utama dalam pengoperasian kereta untuk menghindari terjadinya kecelakaan kereta dan memastikan perjalanan kereta sesuai dengan jadwal yang ditentukan. ”Kita mengecek kondisi listrik aliran atas yang akan dilalui kereta sepanjang Jakarta-Cikarang,” ujar Eva. Pada awal operasi nanti, kata Eva, akan ada sepuluh perjalanan kereta setiap harinya dengan menggunakan formasi delapan gerbong dalam satu rangkaian.

Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan formasi tersebut akan ditambah menjadi 12 gerbong, bila jumlah penumpang untuk rute itu bertambah. ”Tahap awal kita akan ada lima perjalanan PP (pulang-pergi). Artinya, 10 perjalanan per hari. Kita pakai 8 gerbong untuk 1 rangkaian. Kalau memungkinkan, nanti akan ditambah menjadi 12 gerbong, seiring bertambahnya minat penumpang,” tutur Eva.

Eva menyebutkan, kereta dari Jakarta Kota menuju Cikarang akan melewati beberapa stasiun, di antaranya Stasiun Jayakarta, Mangga Besar, Sawah Besar, Juanda, Gambir, Gondangdia, Cikini, dan Manggarai. Dari Manggarai, sambung Eva, kereta akan melewati Stasiun Jatinegara, Klender, Buaran, Klender Baru, Cakung, Kranji, dan Bekasi.

”Di Stasiun Gambir kereta tidak berhenti. Sementara Stasiun Manggarai menjadi stasiun transit bagi penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan kereta untuk rute lainnya. Waktu tempuh kereta dari Stasiun Cikarang ke Jakarta sekitar 1 jam 20 menit,” ujarnya.

Dari Cikarang, stasiun yang sama akan dilewati kereta tersebut. Bila ingin transit, penumpang bisa turun di Stasiun Jatinegara dan Stasiun Manggarai.

Jatinegara merupakan tempat transit bagi penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan ke Stasiun Senen. Adapun Stasiun Manggarai adalah tempat transit bagi penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan ke Bogor dan Tanah Abang.

”Harga tiket Jakarta Kota-Cikarang diberlakukan sama sesuai aturan penarifan, yakni Rp6.000. Biaya tersebut merupakan tarif subsidi dari tarif normal yang mestinya dipatok sebesar Rp11.000,” ujarnya.

Humas Dirjenka Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Joice melihat ada potensi ekonomi dari beroperasinya rute baru tersebut. Karena itu, Kemenhub menganggarkan Rp2,3 triliun dari APBN untuk pembangunan ke empat stasiun tersebut. ”Sebenarnya ini sudah lama diinginkan. Presiden ingin semua wilayah bisa terakomodasi,” tuturnya.

(dni)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini