TANGERANG - Direktur Utama PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMF) Iwan Juniarto mengatakan, pihaknya sudah mendaftarkan perusahaan yang ia pimpin ke Otoritas Jasa Keuangan terkait rencana penawaran saham perdana kepada publik (IPO) pada September 2017.
"Kami sudah daftar ke OJK tanggal 31 kemarin, nanti OJK kasih izin atau tidak untuk 'go public' dan pasti nantinya memberi catatan apa saja yang belum lengkap atau harus dipenuhi," kata Iwan usai penandatanganan perjanjian kerja bersama antara Manajemen GMF dengan Serikat Pekerja GMF (GMF Employee Club) di Hangar 4 GMF Tangerang, Selasa (1/8/2017).
Sejauh ini, Iwan mengaku sudah menyiapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi dan tidak menemukan kendala.
"Semua permintaan dari Bursa Efek Indonesia lancar sudah dipenuhi semua 'item'-nya karena nanti ada tiga tahap," katanya.
Baca Juga:
Salah satu persiapannya yaitu dari sisi sumber daya manusia (SDM) sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang oerawatan pesawat (MRO) terbesar di dunia.
"Dalam IPO nanti GMF dapat dana dari publik, karena itu bagaimana ekspansi ke depan apabila tidak ditopang oleh SDM," katanya.
Dia mengaku salah satu pilar perseroan pelat merah tersebut, yaitu berfokus pada SDM atau ‘human centric’ dengan melakukan komunikasi dan peningkatan kualitas tiap tahunnya.
Iwan sebelumnya juga menuturkan langkah GMF melantai di bursa tersebut untuk menyokong ekspansi bisnis yang lebih besar, di antaranya pembukaan cabang di Batam, Timur Tengah, Korea Selatan, dan Australia.
Untuk pengembangan empat cabang tersebut dia menyebutkan pihaknya butuh dana investasi sekira USD200 juta.
Rencana tersebut merupakan dalam jangka waktu hingga 2021 dan akan dimulai pada 2018 di Batam untuk meraih target pendapatan satu miliar dolar AS.
Selain itu, GMF juga menargetkan bisa merangkul sejumlah perusahaan di bidang baik penerbangan maupun di luar penerbangan dalam usaha patungan (joint venture) minimal 10 usaha patungan.
Baca Juga:
"Ini untuk pengembangan kapabilitas kita, 'joint venture' dengan misalnya OEM (perusahaan suku cadang) karena selama ini banyak pasar domestik yang terserap di luar negeri," katanya.
Iwan menjelaskan potensi pasar domestik juga masih sangat besar, yaitu sebanyak 49% baru dimanfaatkan oleh perusahaan MRO dalam negeri, 32%nya oleh GMF sisanya oleh Batam Aero Technic, anak perusahaan Lion Air Group.
"Artinya, masih ada 51% lagi yang belum dimanfaatkan dan itu sangat besar," katanya.
Untuk tahun ini saja, Iwan menargetkan dapat meraup pendapatan USD424 juta atau meningkat dari tahun lalu USD176 juta.
"Target kita ingin menjadi Top 10 MRO di dunia," katanya.
(Rizkie Fauzian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.