"Keluarga di Ambon. Anak ada satu masih kecil. Tidak mungkin dibawa ke sini karena saya tempat tinggalnya seperti ini," ujarnya.
Pada sekolah ini, terdapat beberapa guru yang memang berasal dari daerah sekitar sehingga memiliki rumah untuk ditempati. Namun, bagi guru pendatang, tak ada pilihan lain selain menetap di sekolah. Ironisnya, terdapat seorang guru perempuan yang tengah hamil dan harus tetap tinggal di laboratorium sekolah.
Charles sendiri tak tinggal diam. Pengajuan pendirian rumah bagi guru beberapa kali telah disampaikan kepada pemerintah. Namun, permintaan ini masih belum digubris oleh pemerintah.
"Sudah usul berapa kali, sampai saat ini tidak digubris. Memang ada perumahan untuk guru. Tapi untuk SD," ujarnya.
Perjuangan Charles tak hanya sampai di situ, ia pun harus berlayar setiap 3 bulan untuk melakukan input data sekolah.
"Kami berlayar ke Ambon atau ke Moa. Update data siswa dan jumlah guru per 3 bulan melalui aplikasi Dapodik, data pokok pendidikan," ujarnya.