nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Belum Maksimal, BI Sebut Potensi Investasi Teknologi Informasi Bisa USD150 Miliar

Feby Novalius, Jurnalis · Rabu 09 Agustus 2017 11:52 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 08 09 320 1752451 belum-maksimal-bi-sebut-potensi-investasi-teknologi-informasi-bisa-usd150-miliar-S5uuSda3mq.jpg Foto: Feby Novalius/Okezone

JAKARTA - Revolusi digital sekarang ini menjadi bagian dari fenomena di mana terobosan teknologi mampu mengubah kehidupan masyarakat. Era penggunaan internet ini pun tidak bisa dihindari, bahkan dampaknya sudah meluas kepada masyarakat.

Bank Indonesia (BI) dari sumber mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan perusahaan-perusahaan baru berbasis aplikasi atau startup berbasis digital, baik di bidang barang jasa, e-commerce, moda pembayaran maupun pembiayaan.

Jumlah pengguna internet yang berbelanja secara online di Tanah Air pada 2016 telah mencapai 24,7 juta orang. Selama setahun terakhir, para pengguna internet tersebut telah membelanjakan uang USD5,6 miliar atau Rp75 triliun di berbagai e-commerce. Dengan kata lain, setiap pengguna e-commerce rata-rata membelanjakan Rp3 juta per tahun.

Baca juga: Revolusi Digital, BI Ingin Ciptakan Big Data yang Lengkap dan Cepat

Selaian e-commerce, revolusi digital di Indonesia juga sudah menyentuh sektor keuangan. Hal ini terlihat dari jumlah financial technology player di Indonesia yang dalam dua tahun terakhir tumbuh pesat sebesar 78%.

Namun besarnya potensi era digital ini, BI menilai belum mampu dimanfaatkan dengan optimal oleh pemerintah. BI mencatat ada sejumlah masalah yang mengakibatkan potensi era digitalisasi belum termanfaatkan, seperti rendahnya penetrasi internet di Indonesia.

"Indonesia dalam memanfaatkan era digital belum optimal karena penetrasi internet kita tergolong masih rendah yaitu 51% di 2016. Angka ini masih relatif jauh di bawah negara tetangga kita seperti Malaysia 71%, Thailand 67%. Sebagai pembanding angka penetrasi internet di negara maju seperti Inggris dan Jepang sudah di atas 90%," ujar Gubernur BI Agus Martowardojo di kantor BI, Jakarta, Rabu (9/8/2017).

Agus melanjutkan, persoalan lain yang belum teroptimalkan di era digitalisasi adalah kualitas layanan internet yang relatif masih rendah dari negara lain. Pengguna internet dan kecepatan rata-rata koneksi kita menempati peringkat 18 dari 20 negara di bawah Thailand dan Malaysia yang menduduki peringkat 11 dan 15.

Baca juga: Lewat Big Data, BI Bisa Cek Lowongan Kerja dan Tren Harga Properti

Selain itu, layanan 4G Indonesia baru mencakup 23% daerah Indonesia. Faktor lainnya adalah masih kecilnya pengeluaran investasi di bidang teknologi dan informasi yang juga relatif tertinggal dibandingkan negara lain.

"Kalau kita masyarakat ke revolusi digital kita tidak boleh spending teknologi informasi itu tidak memadai, tapi kita juga harus yakin bahwa biaya yang dikeluarkan efektif. Tapi pesan kami ingin sampaikan bahwa kita perlu mengeluarkan biaya informasi dan teknologi yang memadai," tuturnya.

Agus mengakui bahwa investasi teknologi memang masih rendah kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi bila dibandingkan manufaktur dan pertambangan. Namun jika dilihat, investasi Indonesia sekarang cukup tinggi tercatat di sektor tersier seperti e-commerce dan financial technology pada 2016. Dengan nilai investasi sekira USD1,7 miliar.

Baca juga: CANGGIH! Big Data BI Bisa Deteksi Dini Capital Outflow

Menurut dia, apabila hambatan-hambatan dalam teknologi informasi digital dapat diatasi, digitalisasi ekonomi diperkirakan mampu memberikan nilai tambah yang jauh lebih besar dari capaian 2016 yakni USD1,7 miliar.

"Kita proyeksikan sebesar USD150 miliar bisa diberikan sektor digitalisasi terhadap PDB Indonesia di 2025. Jadi sekira 10% dari pada PDB di 2025. Yang dibarengi peningkatan penyerapan tenaga kerja mencapai hampir 4 juta orang," tukasnya.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini