JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meminta konsultan Japan International Corporate Agency (JICA) mengkaji jalur kereta semicepat Jakarta-Surabaya memanfaatkan jalur tol eksisting. Dengan memanfaatkan jalur tol atau elevated, diharapkan pembebasan lahan bisa diatasi.
Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, kebutuhan mengenai peningkatan kapasitas kereta api semakin meningkat dari tahun ke tahun. Menurut dia, jika hanya memanfaatkan jalur reaktivasi (jalur rel yang sudah ada) tidak ada lompatan baru dalam pelaksanaan proyek tersebut.
Baca juga: Apa Kabar Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya?
”Salah satu konsennya memang meningkatkan kapasitas dengan menambah kecepatan kereta dari Jakarta ke Surabaya yang selama ini ditempuh selama sembilan jam bisa kita pangkas menjadi lima hingga enam jam,” kata Menhub Budi Karya di Jakarta.
Menurut Menhub, pihaknya belum bisa memastikan pembangunan kereta cepat nanti memanfaatkan mesin diesel atau elektrifikasi. ”Mau itu diesel atau elektrifikasi masih menunggu kajian Badan Penerapan Pengkajian Teknologi. Namun, BPPT berpandangan bahwa kalau sistem elektrifikasi memungkinkan lahirnya industri baru,” kata dia.
Sebelumnya, Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan, studi kelayakan telah dilakukan dengan mempertimbangkan kecepatan rata-rata 150 kilo meter per jam. ”Namun, kami usahakan tidak akan banyak pergantian. Artinya, cukup dengan memperkuat bantalan untuk jalur yang ada selama ini (reaktivasi),” ujar dia belum lama ini.
Baca juga: Proyek Kereta Jakarta-Surabaya, Menko Luhut: Jepang Sedang Melakukan Studi
Dia menambahkan, pihaknya siap mengerjakan studi kelayakan dengan waktu semaksimal mungkin. Seperti diketahui, kajian proyek kereta semicepat (medium speed) dilakukan oleh BPPT, JICA, dan PT Kereta Api Indonesia (Persero). Proyek ini ditargetkan selesai pada 2019.
Pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegija Pranata Semarang, Djoko Setijowarno, mengungkapkan bahwa pembangunan kereta api semicepat dengan kecepatan rata-rata 150 kilometer (km) per jam bisa lebih efektif memindahkan orang dari Jakarta-Surabaya maupun sebaliknya.
Meski begitu, menurutnya, pembangunan kereta semicepat tersebut harus mempertimbangkan penghapusan perlintasan sebidang. Selama ini perlintasan sebidang menghambat grafik perjalanan kereta jarak jauh double-double track.
Baca juga: Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Diadu dengan Pesawat, Lebih 'Kencang' Mana?
”Catatannya cuma satu kalau mau membangun kereta semicepat memanfaatkan jalur eksisting yang ada, yakni dengan menghilangkan perlintasan sebidang. Selama ini yang banyak mengganggu masih banyaknya perlintasan sebidang. Saya rasa ini tidak sulit. Mengenai investor dan lainnya, saya kira itu menjadi kewenangan pemerintah,” tukas dia.
(Rizkie Fauzian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.