Image

Macet hingga 3,5 Jam, Kerugian Ekonomi Indonesia Capai Rp39 Triliun

Dedy Afrianto, Jurnalis · Rabu 13 September 2017, 16:47 WIB
https img z okeinfo net content 2017 09 13 320 1775166 jika tak ada terobosan transportasi dalam 10 tahun penduduk jabodetabek perlu bangun lebih pagi wed3utklJp jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)
JAKARTA - Persoalan transportasi saat ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Meskipun infrastruktur para sektor transportasi tengah dibangun, namun kemacetan masih menjadi kendala dalam pengembangan perkotaan.

Pada daerah Jabodetabek, kerugian akibat bermasalahnya sektor transportasi seperti kemacemn telah menghilangkan potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Menurut Bank Dunia, masyarakat Jabodetabek umumnya menghabiskan waktu minimal 3,5 jam di kemacetan.

Nilai ekonomi yang hilang dalam 1 tahun sama dengan Rp 39,9 triliun. Menurut Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Konstruksi dan Infrastruktur Erwin Aksa peran infrastruktur transportasi di Jabodetabek masih diwarnai dengan karakteristik transportasi yang dihadapkan pada kualitas pelayanan yang rendah. Oleh karenanya, keteriibatan swasta sangat diperlukan daIam proses pembangunan hingga peningkatan kualitas layanan.

"Keberadaan bus Transjakarta dan KRL dinilai belum cukup untuk mengurangi kemacetan karena jaiur yang tersedia belum terkoneksi secara keseluruhan dengan sarana transportasi lainnya," ujarnya, Jakarta, Rabu (13/9/2017).

Menurutnya, kemacetan juga ditimbulkan oleh pembangunan infrastruktur transportasi publik yang seakan-akan menjadi buah simalakama bagi pemerintah dan rakyat. Sebagai contoh adalah pada tol Jakarta-Cikampek, Pemerintah melakukan berbagai upaya dalam menangani kemacetan melalui pembangunan Light Rapid Transit (LRT) dan Kereta Api Cepat Jakarta - Bandung. Namun, pemerintah juga nampaknya melakukan kebijakan yang kontradiktif dengan membangun koridor tol Jakarta Cikampek Elevated atau Jalan Tol Layang.

Akibatnya, pembangunan ketiga proyek besar tersebut daiam waktu bersamaan telah menimbulkan dampak negatif karena kemacetan semakin parah. Adapun total kerugian waktu dan Bbm mencapai sebesar Rp15,6 tritium dalam masa pembangunan selama 24 bulan tersebut.

Kadin mencatat, terdapat beberapa hal yang sulit dicari jalan keluar dalam mengatasi permasalahan transportasi di Jabodetabek. Antara lain adalah pertumbuhan kendaraan yang sangat tinggi, rendahnya disiplin pengguna jalan, buruknya perencanaan dan penataan kota, kondisi sarana kendaraan umum yang buruk, keamanan dan kenyamanan di jalanan.

Sementara itu, Ketua Umum Organda Adrianto Djokosoetono mengatakan, pihaknya berharap oembenahan angkutan umum turut menjadi perhatian utama dari pemerintah. Organda pun berharap adanya angkutan umum yang setara dengan layanan angkutan pribadi. Dengan begitu, angka kecelakaan pada penggunaan kendaraan pribadi nantinya dapat ditekan.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini