Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Warren Buffett, Pernah Ditipu dan Berevolusi Jadi Konglomerat Bisnis

Koran SINDO , Jurnalis-Selasa, 03 Oktober 2017 |11:36 WIB
Kisah Warren Buffett, Pernah Ditipu dan Berevolusi Jadi Konglomerat Bisnis
Ilustrasi: Reuters
A
A
A

Ranah bisnisnya pun sudah sangat beragam, di an taranya perusahaan gula, ritel, jalan rel, perabot rumah tangga, ensiklopedia, vacuum cleaner, toko perhiasan, surat kabar, seragam, utilitas listrik dan gas, maskapai. Sederetan nama perusahaan terkemuka yang berada di bawah kendali Berkshire Hathaway ialah GEICO, Long & Foster, BNSF Railway, Lubrizol, Fruit of the Loom, Helsberg Diamonds, Flight Safety International, NetJet, dan Pampered Chef. Mereka juga memiliki saham sebesar 26,7% di perusahaan ma kanan Kraft Heinz Company. Selain itu, Berkshire Hathaway menjadi holding minoritas yang signifikan di American Express (17,15%), The Cocacola Company (9,4%), Wells Fargo (9,9%), IBM (6,9%), dan Apple (2,5%).

Sejak 2016 mereka mengakuisisi maskapai penerbangan, seperti United Airlines, Delta Air Lines, Southwest Airlines, American Airlines. Permainan saham merupakan bisnis yang menggiurkan dan menjanjikan. Menurut Buffett, seandainya seseorang berani membeli saham Coca-cola senilai USD40 (Rp500.000) saat perusahaan itu mulai IPO pada 1919, dia pasti kaya raya. Faktanya, sesuai laporan Coca-cola pada 2012, nilai investasi USD40 kini setara USD9,8 juta. Di hadapan Buffett, perluasan bisnis itu bukan sekadar kesuksesan, melainkan tantangan baru. Sebab, beban yang harus ditanggung semakin banyak dan berat.

“Ukuran merupakan musuh kinerja. Bahaya terbesar yang dihadapi perusahaan adalah kesuksesan yang terlalu besar,” ujar Buffett pada 2015, dikutip Aol .

Berkshire Hathaway memiliki 367.000 pegawai, meraup keuntungan ta hunan hingga USD24 miliar, dan kapitalisasi pasar hampir USD500 miliar. Perusahaan asuransi merupakan sumber utama pendapatan konglomerat asal AS tersebut. Mereka menggunakan premi float dan memberikan dana klaim asuransi setahun kemudian. Pemerhati investasi dan mitra Ruane Cunniff & Goldfarb, Jonathan Brandt, mengatakan bahwa Buffett me - nolak melakukan dividen dan memilih me lakukan akuisisi karena lebih produktif.

“Salah satu alasan Berkshire Hathaway maju di peringkat kapitalisasi pasar ialah karena mereka tidak mem beli dividen sehingga uang menumpuk,” katanya.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement