JAKARTA - Kejayaan Berkshire Hathaway yang menuntun pemiliknya, Warren Buffett, menjadi orang terkaya kedua di dunia pada 2017 tidak terlepas dari kepandaian Buffett bermain saham.
Pebisnis ulung asal Amerika Serikat (AS) itu menyulap Berkshire Hathaway dari pabrik tekstil menjadi salah satu perusahaan holding terbesar di dunia. Sejak membeli saham Berkshire Hathaway pada 1962, Buffett tidak langsung mengibarkan kesuksesan. Dia justru dirisaukan dengan melesunya bisnis tekstil dan sulitnya menambah pundi-pundi keuangan di badan internal.
Selain itu, pemilik Berkshire Hathaway Seabury Stanton mengecewakannya dengan janji dan harapan palsu. Buffett pun batal menjual saham di Berkshire Hathaway karena ditawar terlalu rendah.
Dia berpikir keras sebeum memutuskan membeli lebih banyak saham Berkshire Hathaway untuk memegang kendali dan memecat Stanton. Dengan pengalaman itu, Buffett tidak ingin Berkshire Hathaway runtuh akibat krisis keuangan. Pada 1967 Buffett mulai menambah industri asuransi sebagai bagian dari bisnis Berkshire Hathaway.
Alumnus Universitas Columbia itu membeli National Indemnity Company dan saham ekuitas Government Employees Insurance Company (GEICO). Sekitar 18 tahun kemudian Berkshire Hathaway menghentikan operasi tekstil. Saat ini Berkshire Hathaway menjadi salah satu perusahaan holding terbesar dan tersukses di dunia.