Image

Pemerintah Minta Amerika Serikat Pertimbangkan Ulang Bea Masuk Imbalan Biodiesel

Efira Tamara Thenu , Jurnalis · Minggu 19 November 2017, 11:33 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 11 19 320 1816631 pemerintah-minta-amerika-serikat-pertimbangkan-ulang-bea-masuk-imbalan-biodiesel-Nby1K695nd.jpg Biodiesel (Foto: Reuters)

JAKARTA – Pemerintah terus melakukan negosiasi atas bea masuk biodiesel dari Indonesia ke Amerika Serikat (AS). Pemerintah Indonesia meminta pemerintah AS mempertimbangkan kembali putusan bea masuk imbalan (countervailing duty) karena putusan tersebut dianggap bersifat overprotektif.

“Pemerintah Indonesia meminta Pemerintah AS untuk mempertimbangkan kembali putusan dan menghargai hubungan baik kedua negara dalam semangat perdagangan bebas dan adil. Indonesia tidak segan-segan mengajukan gugatan melalui mahkamah AS maupun melalui jalur Dispute Settlement Body WTO,” tegas Meneteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita dalam keterangan tertulis, Minggu, (19/11/2017).

Baca Juga: Dana Insentif Biodiesel Periode Januari-Oktober Rp5,7 Triliun

Perlu diketahui, United States Departement of Commerce (USDOC) pada 9 November lalu mengumumkan putusan akhir bea masuk imbalan produk biodiesel impor dari Indonesia dan Argentina. USDOC menetapkan Indonesia dengan bea masuk imbalan antara 34,45%-64,73%. Sedangkan Argentina dikenakan bea masuk antara 71,45%-72,28%.

Putusan akhir dari bea masuk imbalan untuk Indonesia ini memang lebih rendah dari putusan sementara yang dikeluarkan USDOC pada Agustus 2017 lalu yang berkisar antara 41,06%-68,28%.

Mendag mengatakan, pemerintah Indonesia menganggap hasil putusan USDOC merupakan putusan sewenang-wenang dan overprotektif. Dia menyatakan, pemerintah akan terus memperjuangkan pembebasan Indonesia dari tuduhan subsidi.

Baca Juga: Arsenal Militer Gunakan Biodiesel 20%, DEN: Masih Ada Kendala untuk Kendaraan Berat

Saat ini, lanjut Enggar, United State International Trade Commission (USITC) tengah menyelidiki ada tidaknya kerugian industri dalam negeri AS akibat biodiesel impor. Jika USITC menemukan adanya kerugian, maka USDOC akan menginstruksikan Custom and Border Protection AS untuk meneruskan pemungutan deposit dana sesuai dengan bea masuk yang ditetapkan. Jika USITC tidak menemukan adanya kerugian akibat biodiesel impor, maka investigasi harus dihentikan.

Sementara itu, USITC dijadwalkan akan memberikan putusan finalnya pada 21 Desember 2017 terkait penyelidikan yang dilakukannya.


Baca Juga: Sulit Kembangkan Etanol, Indonesia Pilih Barter dengan Biodiesel Thailand

“Apabila dalam putusan akhir nantinya terbukti bahwa putusan maupun metodologi perhitungan yang digunakan AS tidak konsisten dengan aturan WTO-Subsidy and Countervailing Measures Agreement, maka Pemerintah Indonesia akan mempertimbangkan untuk melakukan evalusi mendalam terhadap seluruh impor Indonesia yang berasal dari AS,” ungkap Enggar.

Ekspor biodiesel Indonesia ke AS mencapai USD255,56 juta yang menyumbang 89,19% dari total ekspor biodiesel Indonesia ke seluruh dunia. Semenjak adanya tuduhan ini pada tahun 2017 menyebabkan ekspor biodiesel Indonesia ke pasar AS terhenti. (ulf)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini