Image

Fenomena Gas Elpiji 3 Kg Langka di Penghujung 2017

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Jum'at 08 Desember 2017, 08:24 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 12 08 320 1827126 fenomena-gas-elpiji-3-kg-langka-di-penghujung-2017-n0PLi35PZO.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Di penghujung akhir tahun 2017, masyarakat kembali diresahkan oleh gas elpiji 3 kilogram (kg) yang langka. Bahkan, kelangkaan gas elpiji 3 kg hampir dirasakan di seluruh wilayah Indonesia.

Imbas dari gas elpiji 3 kg langka, masyarakat harus menebusnya dengan harga yang tidak wajar pada harga eceran tertinggi (HET) yang sudah ditetapkan. Bahkan ada yang mencapai Rp35.000 per tabung.

Jauh dari sebelum gas elpiji 3 kg langka, masyarakat juga diresahkan dengan wacana penghapusan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium. Benar saja, di beberapa SPBU tidak lagi menjual Premium karena tergantikan dengan Pertalite.

Baca Juga:

Sudah Langka, Pertamina Gelontorkan 188.650 Gas Elpiji 3 Kg

Gas Elpiji 3 Kg Langka, Ibu-Ibu Harus Inden ke Warung

Di sisi lain, pemerintah tengah memformulasikan pendistribusian gas elpiji 3 kg secara tertutup dengan menggunakan kartu agar subsidi tepat sasaran. Pada dasarnya, gas elpiji 3 kg memang diperuntukkan untuk masyarakat miskin. Tapi tak jarang masih digunakan oleh masyarakat menengah ke bawah, sehingga subsidi gas elpiji 3 kg tidak tepat sasaran.

Saat ini pemerintah segera melakukan mekanisme subsidi gas elpiji 3 kg tepat sasaran yang nantinya hanya akan diberikan kepada rumah tangga miskin, rentan miskin, dan usaha mikro sesuai basis data terpadu dari Kementerian Sosial. Saat ini, mekanismenya masih menunggu dari Kementerian ESDM, Ditjen Migas.

Area Manager Communication & Relations Jawa Bagian Tengah PT Pertamina, Andar Titi Lestari, mengatakan, berdasarkan data dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), saat ini ada sekira 26 juta rumah tangga miskin yang berhak menggunakan gas elpiji 3 kg bersubsidi.

“Karakteristik keluarga miskin atau rentan miskin adalah rumah tangga dengan tingkat kesejahteraan 40% terendah. Pendapatannya Rp350.000 per kapita per bulan, tembok rumah tidak permanen, lantai rumah tidak permanen, luas lantai rumah kurang dari delapan meter persegi,” ujarnya, Senin (27/11/2017).

 Baca Juga: Resah, Masyarakat Kesulitan Dapat Gas Elpiji 3 Kg dan Harga pun Melambung

Masih berdasarkan data TNP2K, segmen usaha mikro ada sekitar 2,3 juta pelaku usaha. Karakteristik usaha mikro yang disubsidi adalah dikelola rumah tangga dengan tingkat kesejahteraan 40% terendah (keluarga miskin/rentan miskin), dan tingkat pendidikan relatif rendah. Selain itu, barang jualan dan tempat usaha tidak selalu tetap, serta umumnya belum ada akses ke perbankan.

“Pada RAPBN P 2017 alokasi LPG bersubsidi sekitar 6,1 juta ton. Realisasi hingga September jika berdasarkan kuota sudah over sampai dengan satu persen kuota dari revisi APBN-P 2017,” jelasnya. Pertamina juga mengimbau agar masyarakat mampu beralih ke gas elpiji non subsidi.

Ketua Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) Ahmad Sarkawi Rauf mengaku masih mengkaji penyebab kelangkaan tabung bersubsidi itu di pasaran.

”Ini sementara dalam proses penelitian kami di KPPU. Kami belum bisa menarik kesimpulan apa yang membuat kelangkaan itu,” kata Ahmad Sarkawi Rauf.

Menurut dia, sejauh ini kajian yang dilakukan pihaknya fokus mencari tahu apakah ada indikasi praktik persaingan usaha tidak sehat yang dilakukan di lapangan sehingga terjadi kelangkaan.

”Terkait dengan pelanggaran UU persaingan usaha, kami bisa memberikan sanksi administrasi seperti blacklist dan mencabut rekomendasi izin kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran,” katanya.

Sebelumnya, Pertamina menambah pasokan elpiji 3 kg di kawasan Jakarta, Jawa Barat dan Banten seiring dengan keluhan masyarakat atas kelangkaan LPG subsidi ini. Penambahan pasokan yang digelontorkan bervariasi untuk masing-masing wilayah, bahkan ada yang mencapai 60% dibandingkan penyaluran normal.

Unit Manager Communication & Relations Pertamina Jawa Bagian Barat Dian Hapsari Firasati menjelaskan, hal ini dilakukan dengan penambahan pasokan ke agen atau pangkalan resmi dan juga operasi pasar.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini